Pendidikan Bagi Perempuan, Kunci Lahirkan Generasi Cerdas

Mahasiswa Antropologi, Sastra Indonesia dan Sastra Inggris Fasasbud Unipa (Foto.TS/Topbnews.com)

Manokwari, Topbnews.com – Pendidikan bagi perempuan adalah kunci lahirkan Generasi Cerdas, hal ini mencuat dalam diskusi yang digelar Antropologi Fakultas Sastra dan Budaya Unipa Manokwari, dengan tema “Budaya Literasi dan Hak-Hak Perempuan Dalam Mendapatkan Pendidikan di Papua”, yang berlangsung di Aula Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua, Manokwari, Senin (28/11) siang.

Dosen Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya UNIPA, Yafet Syufi mengatakan, Perempuan adalah kelompok yang harus mendapatkan perhatian dalam dunia pendidikan guna mewujudkan kesetaraan gender di Papua.

“Budaya di Papua, laki-laki memiliki peran yang dominan, tetapi dewasa ini banyak perempuan yang diberi ruang menduduki posisi-posisi penting di pemerintahan dan posisi lainnya,” jelasnya.

Sementara, narasumber lainnya mahasiswa Antropologi UNIPA, Elsi Ester Bebari menyatakan, dengan pendidikan, diskriminasi terhadap perempuan dapat diperangi. Dengan pendidikan perempuan akan mampu memposisikan dirinya dengan baik.

“Kuncinya adalah pendidikan. Karena dengan pendidikan, kelompok perempuan yang termarginalkan dan terdiskriminasi akan diperangi,” tuturnya.

Ketua Komunitas Suka Membaca, Lamek Dowansiba mengatakan, setiap orang berhak mendapatkan pendidikan.

“Baik laki-laki, perempuan, mereka yang di kota, di kampung atau dimanapun berhak mendapatkan pendidikan. Tak terkecuali dengan kelompok disabilitas,” ungkapnya.

Diskusi bertajuk Budaya Literasi dan Hak-Hak Perempuan dalam Mendapatkan Pendidikan di Papua (Foto.TS/Topbnews.com)

Lamek mengungkapkan, banyak pesan moral yang disampaikan dalam Film Lamek. Dimana tak hanya laki-laki saja tapi anak perempuan juga diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan.

Sementara, Asisten Sutradara Film Lamek, Teti Sanda mengatakan, Literasi sangat dekat dengan perempuan. Sejarah mencatat peran perempuan dalam keluarga , salah satunya adalah menularkan budaya literasi kepada anak sejak dini.

“Contoh saat ibu membacakan dongeng bagi anaknya. Anak yang mendengarkan dongeng daya imajinasinya akan berkembang dengan sendirinya, disamping anak merasakan dekapan hangat dari sang ibu,” tuturnya

Dijelaskan, semakin rendah kemampuan literasi seseorang maka semakin kecil peluang mengakses pengetahuan dan informasi yang dibutuhkan, akibatnya meningkatkan kerentanan pada kemiskinan dan diskriminasi.

Diskusi ini ditutup dengan sesi tanya jawab dan foto bersama narasumber bersama para mahasiswa dari Jurusan Antropologi, Jurusan Sastra Indonesia dan Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua.

Penulis : Tesan
Topbnews.com

Berita Lain :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!