Ziarah ke Makam Yance Rumbino di Pulau Wendi, ABT : Terkait Pelurusan Lirik lagu “Tanah Papua”

Penjabat Gubernur Papua Barat, Ali Baham Temongmere (Foto : TopbNews.com)

Manokwari, TopbNews.com – Penjabat Gubernur Papua Barat, Ali Baham Temongmere, menjelaskan terkait kunjungan pemerintah Provinsi Papua Barat ke Pulau Wendi, Biak, beberapa waktu yang lalu.

Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Temongmere dan rombongan disambut hangat oleh Pemerintah Daerah Biak Numfor.

“Kami melakukan perjalanan ke Pulau Wendi dan disambut dengan baik oleh Pemda Biak. Kami juga melanjutkan perjalanan ke Keerom untuk dua kegiatan penting,” ungkap Temongmere usai mengukuhkan Pjs Bupati Teluk Wondama, Derek Ampiner dan PJS Fakfak, Oktovianus Mayor di Auditorium PKK Arfai Papua Barat.

Salah satu agenda utama kunjungan ini adalah terkait lagu “Tanah Papua”, sebuah karya yang kini hak ciptanya resmi dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Papua Barat. Lagu tersebut merupakan warisan budaya Papua yang diciptakan oleh almarhum Yance Rumbino.

“Lagu ini sekarang secara resmi berada di bawah pemerintah Provinsi Papua Barat setelah dibeli oleh Pemda. Kami berziarah ke makam Pak Yance Rumbino di Pulau Wendi, dan bertemu keluarganya, serta memberikan sedikit bantuan,” tambahnya.

Gubernur juga menjelaskan bahwa mereka sedang melakukan sosialisasi terkait pelurusan lirik lagu “Tanah Papua”. Dalam berbagai kesempatan, beberapa bagian lirik kerap dinyanyikan tidak sesuai dengan versi asli.

“Sebagai pemegang hak cipta, kami bertanggung jawab untuk memastikan bahwa lagu ini dinyanyikan sesuai dengan lirik dan aransemen yang diciptakan oleh Pak Haji. Misalnya, bait pertama sering salah dinyanyikan, begitu juga dengan bait terakhir. Kami ingin memastikan ke depannya lagu ini dinyanyikan dengan benar, baik di Tanah Papua maupun di luar,” jelasnya.

Selain itu, dalam kunjungan tersebut, Ali Baham Temongmere juga menyinggung tentang peninggalan sejarah di Pulau Wendi. Salah satunya adalah gua Jepang dan lokasi yang pernah menjadi tempat tahanan bagi para sukarelawan Trikora. Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu tahanan tersebut adalah ayahnya sendiri, yang pernah ditangkap Belanda dan ditawan di Pulau Wendi.

“Ini adalah perjalanan yang sangat emosional bagi saya. Ayah saya pernah ditahan di pulau ini sebagai sukarelawan Trikora. Ia ditangkap oleh Belanda dan dibawa ke Manokwari, kemudian ditawan di Pulau Wendi. Sekarang, saya datang ke pulau ini bukan sebagai tahanan, tapi sebagai Penjabat Gubernur Papua Barat. Ini adalah sebuah pengingat akan sejarah perjuangan kami,” ungkapnya dengan haru.

Kunjungan ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran masyarakat Papua Barat akan pentingnya melestarikan warisan budaya dan sejarah di wilayah mereka, serta memberikan penghormatan bagi para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan. (*/KY)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!