Spirit Pekabaran Injil Harus Jadikan Umat Kristen Penjaga Perdamaian

Manokwari, TopbNews.com – Peringatan 171 tahun Pekabaran Injil (PI) di Tanah Papua menjadi momentum refleksi iman sekaligus penguatan peran umat Kristen sebagai pembawa damai dan penjaga keutuhan ciptaan Tuhan.

Direktur Urusan Agama Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia, Luksen Jems Mayor, hadir mewakili Menteri Agama RI pada puncak peringatan HUT Pekabaran Injil, Kamis (5/2/2026) di Pulau Mansinam menyampaikan rasa syukur atas penyertaan Tuhan yang terus menyertai Tanah Papua sejak Injil pertama kali diberitakan pada 5 Februari 1855.

Menurut Luksen, peringatan masuknya Injil di Pulau Mansinam tidak boleh dipahami sebatas agenda seremonial keagamaan, melainkan sebagai ungkapan iman yang hidup dari masyarakat Papua atas kasih Tuhan di tengah berbagai tantangan dan dinamika yang terus berkembang.

“Peringatan ini adalah wujud syukur dan pengakuan iman bahwa Tuhan Yesus tetap menyertai Tanah Papua. Spirit Pekabaran Injil harus melahirkan damai dan menjadikan umat Kristen sebagai penjaga perdamaian,” ujar Luksen.

Ia menegaskan, pesan Injil yang berakar dari Pulau Mansinam membawa mandat moral bagi umat Kristen untuk terus merawat kerukunan, menjaga harmoni sosial, serta menjadi teladan dalam kehidupan bersama di tengah keberagaman.

Selain pesan perdamaian, Luksen juga menyoroti pentingnya kesadaran ekologis sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari iman Kristen.

Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan hidup merupakan panggilan iman yang harus terus digaungkan oleh gereja-gereja di Tanah Papua.

“Spirit Mansinam juga mengingatkan kita untuk menjaga alam. Pesannya jelas, siapa yang menjaga alam, maka alam pun akan menjaga kita,” katanya.

Lebih lanjut, ia menekankan nilai kemanusiaan harus menjadi pusat dalam setiap proses pembangunan di Papua. Gereja, kata Luksen, memiliki peran strategis dalam memperkuat nilai cinta kasih, persaudaraan, kerukunan, serta ekoteologi sebagai wujud iman yang nyata di tengah masyarakat.

“Pembangunan harus menempatkan manusia sebagai pusatnya, dengan tetap berpijak pada cinta kemanusiaan, cinta kerukunan, dan tanggung jawab menjaga ciptaan Tuhan,” pungkasnya.

Penulis : Marthina Marisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!