
Bintuni, TopbNews.com – Mentari belum lagi menyingsing. Embun pun masih engan mengering meninggalkan pucuk dedaunan. Di beberapa jalanan Kota Bintuni, semburat senyum dari warga terpancar di wajah mereka. Ada yang berjalan beriringan bersama keluarga. Ada pula yang melangkah sendiri menuju Masjid Al-Ma’un Muhammadiyah Tissai. Gema takbir memuja asma Allah berkumandang mengiringi langkah-langkah penuh kemenangan. Sebuah baliho bertuliskan “Hadirilah Sholat Idul Fitri” berdiri tegak di pinggir jalan. Seakan menjadi undangan terbuka bagi setiap jiwa untuk kembali kepada fitri.
Ya, pagi ini, Jumat (20/3) di bawah langit yang cerah dan gema takbir mengalun syahdu ratusan umat Islam di Kota Bintuni telah merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah.
Ustad Joko Susilo yang naik ke mimbar berapi-api menyampaikan pesan Idul Fitri seakan ingin menyentuh setiap relung hati jamaah. Di balik suaranya yang tenang namun sarat makna, dia mengajak jamaah tidak sekadar merayakan kemenangan secara lahiriah. Tetapi juga menggali makna terdalam dari Idul Fitri itu sendiri.
“Selama sebulan penuh kita telah berusaha taat kepada Allah. Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Hari ini adalah hari kemenangan. Hari di mana Allah menghadiahkan kita kesempatan untuk kembali kepada fitri”, ucapnya.
Menurutnya, Ramadan bukan sekadar ritual tahunan. Tapi madrasah atau tempat pendidikan bagi kehidupan yang mengajarkan kesabaran saat lapar dan dahaga, ketulusan dalam ibadah, serta kepedulian terhadap sesama. Dia mengingatkan, bahwa hal paling penting usai ramadhan adalah bagaimana nilai-nilai tersebut tetap hidup pada setiap insan.
“Hari ini bukan hanya tentang bergembira. Ini adalah hari untuk kembali kepada hati yang bersih, hati yang dipenuhi kasih sayang”, tuturnya.
“Sudahkah Ramadan mengubah kita? Apakah hati kita menjadi lebih lembut? Apakah lisan kita lebih terjaga? Apakah tangan kita lebih ringan untuk menolong saudara-saudara kita?”, lanjutnya bertanya.

Suasana hening sejenak. Seakan setiap jamaah larut dalam perenungan pribadi. Pesan yang disampaikan tidak hanya terdengar. Tetapi terasa menyentuh hati para jamaah yang datang dari beberapa daerah di Kota Bintuni ini.
Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa Idul Fitri sejatinya adalah momentum untuk saling memaafkan dan melepaskan beban masa lalu. Dalam momen penuh berkah ini, setiap insan diajak untuk membuka lembaran baru kehidupan. “Jangan pulang dari tempat salat ini dengan hati yang masih menyimpan dendam. Kita mungkin tidak mampu menghapus kesalahan masa lalu, tetapi kita bisa memulai kembali dengan saling memaafkan”, ujarnya.
Dia berpesan, tidak ada jaminan akan bertemu Ramadan di tahun berikutnya. Sehingga semangat ibadah yang dibangun selama ramadhan tahun ini, terus dijaga dan ditingkatkan. “Jangan biarkan Ramadan berlalu begitu saja. Jadikan ia sebagai awal perubahan, bukan akhir dari kebaikan”, tegasnya.
Mengutip hadis Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, yang menyatakan siapa yang berpuasa dengan penuh iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya akan diampuni. Bahkan, mereka yang melanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal akan mendapatkan pahala seperti berpuasa sepanjang tahun.
Pesan lain yang dia sampaikan adalah pentingnya menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an. Ia mengingatkan bahwa meskipun banyak yang telah mengkhatamkan Al-Qur’an selama Ramadan, jangan sampai kebiasaan baik itu ditinggalkan setelahnya. “Al-Qur’an dan puasa akan menjadi syafaat bagi kita di hari kiamat. Maka jangan tinggalkan keduanya,”, pesannya.
Di akhir khotbah, Ustad Joko Susilo mengajak jamaah menegadakahkan tangan menyampaikan munajat kepada Allah. Memohon agar seluruh amal ibadah selama Ramadan diterima, dosa-dosa diampuni, serta diberikan kesempatan untuk kembali bertemu bulan suci di masa yang akan datang.
Di bagian akhir shalat Idul Fitri, para jamaah saling berjabat tangan. Saling berpelukan. Senyum tulus menjadi bahasa yang paling jujur di hari kemenangan.
Di Teluk Bintuni pagi itu, Idul Fitri bukan sekadar perayaan. Ia adalah perjalanan pulang kepada fitrah. Pulang kepada Allah dengan membawa hati yang lebih bersih, jiwa yang lebih tenang, dan harapan yang kembali tumbuh dalam keheningan. (*)
Penulis: Marthina Marisan