
Bintuni, TopbNews.com – Semangat pelestarian budaya lokal mewarnai pelaksanaan Lomba Panahan Tradisional dalam ajang Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Kabupaten Teluk Bintuni.
Tidak sekadar menjadi arena kompetisi untuk memperebutkan gelar juara, kegiatan ini juga menjadi simbol upaya menjaga dan mewariskan salah satu tradisi leluhur masyarakat Papua kepada generasi muda.
Panahan tradisional yang sejak dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat di Kabupaten Teluk Bintuni kini terus diperkenalkan dan dilestarikan melalui berbagai kegiatan budaya dan olahraga.
Di Teluk Bintuni, panahan tradisional memiliki nilai historis dan filosofi yang kuat karena merupakan keterampilan yang diwariskan turun-temurun oleh para leluhur sebagai bagian dari kehidupan masyarakat adat.
Dalam perlombaan yang berlangsung meriah tersebut, Marthen Orocomna berhasil meraih Juara I setelah menunjukkan kemampuan terbaiknya hingga babak final.
Prestasi yang diraihnya menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus bukti bahwa tradisi leluhur masih hidupmu dan diminati oleh generasi muda dan orang tua di masa kini.
Usai meraih Peringkat Pertama Marthen Orocomna menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni, panitia penyelenggara, dan seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya lomba panahan tradisional.
Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat penting karena tidak hanya memberikan ruang bagi para atlet untuk berkompetisi, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan budaya asli kepada generasi muda.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan lomba panahan tradisional ini. Harapan saya kegiatan seperti ini terus ditingkatkan dan dilaksanakan secara rutin di masa yang akan datang. Panahan tradisional adalah bagian dari budaya kita yang harus tetap dijaga dan diwariskan kepada anak-anak muda”, ujarnya Kepada TopbNews.com, Sabtu (29/5).
Marthen menilai, semakin sering kegiatan budaya digelar, maka semakin besar pula peluang generasi muda untuk mengenal dan mencintai warisan leluhur mereka.
Ia berharap panahan tradisional dapat terus berkembang dan menjadi salah satu identitas budaya yang dibanggakan oleh masyarakat Teluk Bintuni.
Sementara itu, Koordinator Panahan Tradisional, Siprianus Yerkohok, mengatakan bahwa panahan tradisional bukan sekadar olahraga, melainkan bagian dari identitas masyarakat adat yang memiliki nilai sejarah, kebersamaan, kedisiplinan, serta penghormatan terhadap warisan nenek moyang.

Sebagai koordinator panahan tradisional tujuh suku dan tokoh pemuda, Siprianus menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni, khususnya Dinas Pendidikan, yang dinilai telah memberikan perhatian besar terhadap pelestarian budaya lokal melalui penyelenggaraan lomba tersebut.
“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pemerintah daerah dan khususnya Dinas Pendidikan yang sudah melihat pentingnya pelestarian budaya. Panahan tradisional merupakan warisan budaya yang harus dijaga. Ini bukan hanya soal pertandingan, tetapi bagaimana kita mempertahankan identitas anak-anak adat agar tetap mengenal budayanya sendiri”, katanya.
Menurut Siprianus, selama ini berbagai cabang olahraga mendapatkan pembinaan secara berkelanjutan.
Oleh Karena itu, panahan tradisional juga perlu memperoleh perhatian yang sama agar dapat terus berkembang dan menjadi kebanggaan masyarakat adat Papua.
Ia mengungkapkan bahwa sejak tahun 2025 pihaknya telah aktif melakukan pembinaan dan berbagai kegiatan pengembangan panahan tradisional. Upaya tersebut dilakukan agar generasi muda tidak kehilangan jati diri budaya di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
“Sejak 2025 kami sudah melakukan berbagai kegiatan pembinaan dan sampai hari ini masih terus berjalan. Kami ingin memastikan bahwa panahan tradisional tidak berhenti hanya sebagai warisan cerita, tetapi tetap dipraktekkan dan dikembangkan oleh generasi muda. Kami siap hadir dimana saja untuk memperkenalkan budaya ini”, ungkapnya.

Lebih lanjut, Siprianus berharap suatu saat panahan tradisional Papua dapat tampil dalam berbagai ajang nasional maupun internasional sebagai representasi kekayaan budaya masyarakat adat Papua.
“Ke depan kami ingin panahan tradisional ini bisa dikenal lebih luas. Kami siap membawa budaya ini ke berbagai event dan berharap suatu hari dapat tampil hingga tingkat internasional sebagai kebanggaan masyarakat Papua”, tambahnya.
Di sisi lain, Koordinator Panahan Porseni dan Tradisional Papua, Kadarusman, menjelaskan bahwa antusiasme masyarakat terhadap perlombaan ini sangat tinggi.
Tercatat sebanyak 135 peserta mengikuti perlombaan yang berlangsung dalam suasana kompetitif namun tetap menjunjung tinggi nilai sportivitas dan persaudaraan.
Menurutnya, sistem pertandingan diawali dengan babak kualifikasi yang dilaksanakan dalam enam sesi.
Setelah itu, peserta terbaik yang lolos ke 32 besar melanjutkan pertandingan ke babak eliminasi dengan sistem gugur hingga tersisa para finalis.
“Babak kualifikasi dilaksanakan dalam enam sesi. Setelah itu peserta yang lolos ke 32 besar masuk ke sistem eliminasi hingga menghasilkan juara pertama, kedua, ketiga, dan keempat”, jelasnya.
Ia menambahkan bahwa seluruh pemenang mendapatkan penghargaan berupa medali, sertifikat, serta uang pembinaan sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang diraih selama kompetisi.
Keberhasilan pelaksanaan lomba panahan tradisional ini menjadi bukti bahwa budaya lokal masih memiliki tempat yang kuat di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan seperti Porseni, generasi muda tidak hanya diajak untuk berkompetisi, tetapi juga belajar menghargai sejarah, mengenal identitas budaya, dan menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dari generasi ke generasi.
Lebih dari sekadar perlombaan, panahan tradisional di Teluk Bintuni telah menjadi simbol kecintaan masyarakat terhadap budaya.
Busur dan anak panah yang dahulu digunakan sebagai alat berburu kini menjelma menjadi media pemersatu, sarana pendidikan budaya, sekaligus pengingat bahwa kemajuan daerah harus berjalan seiring dengan pelestarian nilai-nilai adat yang diwariskan oleh para leluhur. (*)
Penulis : Marthina Marisan