
Bintuni, TopbNews.com – Kabut asap pekat yang kembali menyelimuti Kabupaten Teluk Bintuni beberapa hari terakhir menjadi perhatian serius. Kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi penderita penyakit paru dan kelompok rentan seperti anak-anak.
Plt. Direktur RSUD Teluk Bintuni, dr. Novita Panggau, mengatakan hingga saat ini belum ada peningkatan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di RSUD.
Menurutnya, kasus ISPA umumnya ditangani di Puskesmas sehingga peningkatan kemungkinan lebih terlihat pada layanan tingkat pertama.
“Kalau untuk ISPA sebenarnya tidak terlalu signifikan. Tetapi ISPA itu kan bisa ditangani di Puskesmas. Mungkin di Puskesmas ada peningkatan kasus ISPA,” ujar Novita kepada TopbNews.com di Ruang Rapat DPRK Teluk Bintuni, Senin (29/9/2026).
Dalam sepekan terakhir, RSUD juga belum mencatat peningkatan komplikasi penyakit paru, termasuk kekambuhan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Namun paparan asap tetap perlu diwaspadai karena dapat memperburuk gangguan pernapasan yang sudah ada.

“Terutama yang memiliki riwayat penyakit paru sebelumnya harus ekstra hati-hati. Dampak asap ini bisa menyebabkan penyakit parunya kembali kambuh,” katanya.
Novita mengimbau warga menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Ia menyarankan masker medis karena partikel asap berukuran sangat kecil sehingga masker kain kurang efektif.
Selain masker, warga diminta mengurangi aktivitas luar rumah jika tidak perlu, memperbanyak minum air putih, dan tetap mengonsumsi obat bagi penderita penyakit kronis secara teratur.
“Yang paling utama menggunakan masker. Masker yang disarankan masker medis, karena partikel asap itu sangat kecil. Kalau masker kain bisa menembus,” jelasnya.
Penderita penyakit kronis juga diminta tetap kontrol sesuai jadwal untuk mencegah perburukan akibat paparan asap.
Khusus anak TK–SD yang belajar dari rumah akibat kabut asap, Novita meminta orang tua memastikan anak tidak bermain di luar.
“Kalau anak-anak tidak pergi sekolah, jangan malah pergi main di luar. Lebih baik tetap di rumah dan melakukan kegiatan di rumah selain belajar,” ujarnya.
Warga juga diminta tidak menambah polusi di dalam rumah, seperti membakar sampah, menggunakan obat nyamuk bakar, maupun pembakaran lainnya. Perokok diminta tidak merokok di dalam rumah.
“Kalau bisa jangan merokok di dalam rumah. Dengan kondisi seperti ini, mohon kepada yang merokok bisa menjaga anak-anak dan keluarga di rumah,” tegasnya.
Pencegahan menjadi langkah penting selama kabut asap masih terjadi. Warga diminta membatasi paparan, menjaga kesehatan, dan segera memeriksakan diri jika mengalami gangguan pernapasan yang memburuk. (*)
Penulis : Marthina Marisan