
Manokwari, TopbNews.com – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, suasana di Pemakaman Islam Pasir Putih, Manokwari, Papua Barat tampak lebih ramai dari hari biasanya.
Warga berdatangan untuk berziarah, membersihkan makam keluarga, serta memanjatkan doa sebagai bagian dari tradisi turun-temurun menyambut bulan penuh berkah.
Salah satu peziarah, Teguh, mengaku rutin berziarah setiap menjelang puasa dan Idulfitri. Ia datang untuk mendoakan kedua orang tuanya yang telah berpulang.
“Terima kasih untuk anak-anak dan saudara yang sudah membersihkan pemakaman ini. Kami yang tinggal jauh pun senang melihat tempat ini bersih. Kami tidak bisa membalas, biarlah Tuhan yang membalas”, ujarnya kepada media ini (17/2).

Menurut Teguh, tradisi ziarah menjelang Ramadan memang tidak memiliki tuntunan khusus, namun sudah menjadi kebiasaan masyarakat. Selain mendoakan keluarga, momen ini juga menjadi ajang silaturahmi.
“Kalau keluarga masih banyak, biasanya kita rame-rame. Malah tempat kumpulnya di pemakaman. Di sini bisa ketemu saudara, teman, dan keluarga yang sama-sama datang ziarah”, katanya.
Ia juga mengapresiasi keberadaan para penjual bunga dan air di sekitar area pemakaman. Bunga yang ditabur di atas makam menjadi simbol keindahan dan penghormatan bagi yang telah tiada.
“Tidak semua orang punya bunga di rumah. Jadi ini sangat membantu. Kalau ada yang jual di sekitar sini, itu hal yang wajar dan patut kita terima kasih”, tambahnya.
Berkah Ramadan Bagi Pedagang Kecil
Momentum jelang puasa juga membawa rezeki bagi masyarakat sekitar.
Salah satunya Jois Mayor, penjual bunga dan air yang berjualan bersama keluarga sejak beberapa hari terakhir.
“Kita jual bunga dan air untuk cari tambahan jelang lebaran. Tergantung yang datang. Kadang habis, kadang tidak, karena banyak juga anak-anak yang jualan”, tuturnya.
Harga bunga dalam kantong plastik dijual mulai dari Rp5 ribu hingga Rp10 ribu, sementara air dibanderol Rp10 ribu per botol. Meski penghasilannya tidak menentu, Jois tetap bersyukur.

“Yang penting bisa dapat sedikit untuk tambah-tambah. Banyak juga mama-mama yang jual makanan, jadi ini memang mendatangkan keuntungan untuk masyarakat sekitar”, katanya.
Ia bersama keluarga bahkan membersihkan area makam secara manual menggunakan tangan. Mereka berharap para keluarga yang makamnya dibersihkan dapat memahami usaha tersebut.
“Kita bersihkan pakai tangan sendiri, bukan babat. Tidak paksa orang kasih apa-apa, tapi semoga keluarga yang berkunjung ke makam bisa mengerti”, ujarnya.
Tradisi yang Menguatkan Ikatan
Tradisi ziarah jelang Ramadan di Pasir Putih bukan sekadar ritual, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan penguatan nilai kekeluargaan.
Di antara taburan bunga dan doa-doa yang terlantun, terselip rasa rindu, syukur, dan harapan menyambut bulan suci.
Ramainya peziarah menjadi penanda bahwa semangat menyambut Ramadan tak hanya terasa di masjid-masjid, tetapi juga di tempat peristirahatan terakhir orang-orang tercinta. (*)
Penulis: Marthina Marisan