Festival Iklim Tanah Papua Jadi Momentum Konsolidasi Aksi Lingkungan Lintas Wilayah

Sumber Foto : WWF_ID

Sorong, TopbNews.com – Tanah Papua Climate Champions Festival 2025 resmi digelar di Gedung Lambert Jitmau, Kota Sorong, Senin (21/7).

mostbet

Festival ini tidak sekedar menandai berakhirnya program lima tahun Voices for Just Climate Action (VCA), tetapi juga menjadi ajang konsolidasi kekuatan lintas wilayah Papua dalam memperkuat aksi kolektif menghadapi krisis iklim.

Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, dalam sambutannya mengatakan, festival ini sebagai ruang strategis mempertemukan masyarakat adat, aktivis lingkungan, pemerintah daerah, dan organisasi masyarakat sipil dari lima provinsi: Papua, Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Barat Daya.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Krisis iklim adalah masalah bersama yang hanya bisa diselesaikan dengan kolaborasi. Festival ini adalah simbol solidaritas dan semangat bersama menjaga hutan, laut, dan tanah kita”, ujar Elisa.

Menurut Elisa, pertemuan ini memperkuat suara masyarakat adat yang selama ini menjadi garda terdepan perlindungan alam di Tanah Papua. Ia menekankan pentingnya menjadikan masyarakat adat sebagai pengambil keputusan dalam isu-isu lingkungan hidup dan investasi sumber daya alam.

Sumber Foto : WWF_ID

“Ini bukan hanya soal alam, tetapi soal martabat, identitas, dan masa depan kita. Masyarakat adat harus punya tempat di meja perundingan”, tegasnya.

Festival ini juga menyoroti tantangan pemekaran wilayah dan percepatan pembangunan infrastruktur yang berisiko meningkatkan eksploitasi sumber daya alam.

Elisa Kambu mengingatkan bahwa pembangunan yang tidak terkendali bisa menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan lingkungan.

Kegiatan yang akan berlangsung selama tiga hari ini (21-23 Juli) diisi dengan diskusi panel, pameran komunitas, pertunjukan seni budaya, dan peluncuran inisiatif hijau berbasis lokal. Delegasi dari berbagai provinsi saling berbagi pengalaman dan strategi menghadapi dampak perubahan iklim yang makin terasa di kawasan timur Indonesia.

“Festival ini bukan akhir, tetapi awal dari gerakan besar yang harus terus hidup. Kita butuh kebijakan yang mendengar suara masyarakat akar rumput”, pungkas Elisa. (*)

Penulis : Marthina Marisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!