Terbakar dan Bangkit Masjid Al Azhar Wosi Pantai Masih Menanti Uluran Tangan Pemerintah

Manokwari, TopbNews.com – Suasana Ramadan di Masjid Al Azhar Wosi Pantai, Kabupaten Manokwari, kembali dipenuhi antusiasme jamaah. Namun di balik semangat ibadah tersebut, tersimpan harapan terhadap pemerintah daerah terkait kondisi tempat ibadah yang dinilai belum memadai.

Sekretaris Takmir Masjid Al Azhar Wosi Pantai, Umar, mengungkapkan bahwa peristiwa kebakaran yang terjadi pada 6 Juni 2023 lalu menjadi momen paling berat bagi pengurus dan jamaah.

Kebakaran tersebut menghanguskan sekitar 75 persen bagian atas bangunan masjid.

“Kejadian itu membuat kami sangat terpukul. Sebagai pengurus, saya tidak pernah membayangkan hal itu bisa terjadi. Tapi namanya musibah, mungkin ini cobaan dari Allah untuk kami”, ujar Umar kepada TopbNews.com, Sabtu (28/2).

Pasca kebakaran, pengurus dan jamaah langsung berembuk untuk mencari solusi. Dalam kurun waktu enam bulan, masjid kembali berdiri melalui swadaya masyarakat, dengan sekitar 80 persen pembiayaan berasal dari kontribusi jamaah dan donatur.

“Kami berpikir, kalau tidak segera dibangun kembali, di mana kami akan beribadah? Jadi kami sepakat untuk bergerak bersama. Alhamdulillah, enam bulan kemudian masjid bisa kembali digunakan”, jelasnya.

Selama proses renovasi, jamaah terpaksa mencari masjid terdekat untuk melaksanakan salat. Bahkan, dalam kondisi tertentu, mereka harus salat darurat di lokasi sekitar atau di rumah masing-masing, terutama saat hujan turun.

Meski menghadapi keterbatasan, semangat masyarakat untuk beribadah tidak surut. Antusiasme itu justru semakin terlihat saat memasuki bulan suci Ramadan.

Menurut Umar, jumlah jamaah laki-laki yang rutin beribadah di Masjid Al Azhar mencapai sekitar 200 orang. Namun saat awal Ramadan, jumlah tersebut meningkat drastis karena turut dihadiri jamaah perempuan.

“Kalau awal puasa, jamaah bisa lebih dari 200 orang. Kadang masjid tidak mampu menampung. Kami sampai harus menyiapkan area di sekitar masjid untuk salat bersama”, ungkapnya.

Kondisi bangunan yang sempit dan terbatas menjadi tantangan tersendiri, terutama saat pelaksanaan salat tarawih dan kegiatan ibadah lainnya di bulan Ramadan. Jamaah harus berhimpitan, bahkan meluber hingga ke halaman sekitar masjid.

Umar berharap, peristiwa kebakaran dua tahun lalu menjadi titik balik bagi pemerintah daerah untuk lebih memperhatikan kebutuhan sarana ibadah masyarakat, khususnya di wilayah Wosi Pantai.

“Kami berharap ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Manokwari. Masjid kami sangat sempit dan tidak mampu lagi menampung jamaah. Kami butuh dukungan, mungkin lokasi yang lebih representatif untuk pembangunan ke depan”, tegasnya.

Ia menambahkan, kehadiran pemerintah tidak hanya sebatas respons saat terjadi musibah, tetapi juga dalam membangun sinergi jangka panjang dengan masyarakat.

“Harapan kami, ini bisa menjadi momentum silaturahmi antara pemerintah dan warga. Supaya ada sinergi untuk membangun tempat ibadah yang layak dan nyaman bagi masyarakat”, pungkasnya.

Di tengah semarak Ramadan dan semangat kebersamaan jamaah, kondisi Masjid Al Azhar Wosi Pantai menjadi potret bahwa kebutuhan rumah ibadah yang representatif masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian serius pemerintah daerah.

Penulis : Marthina Marisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!