
Bintuni, TopNews.com – Suasana hening dan penuh penghayatan menyelimuti ibadah Jumat Agung di Jemaat GKI Ebenhazer Sigerau. Perayaan wafatnya Tuhan Yesus Kristus di kayu salib ini tidak hanya menjadi peringatan iman semata, tetapi juga momentum refleksi mendalam tentang dosa, kasih Allah, dan panggilan hidup setiap orang percaya.
Pelayan firman, Capel Zeth Tetelepta, dalam khotbahnya mengajak jemaat untuk tidak sekadar mengenang peristiwa penyaliban sebagai sejarah, melainkan menyadari bahwa penderitaan Yesus merupakan konsekuensi dari dosa manusia secara menyeluruh.
“Siapa hari ini yang berani berdiri dan berkata bahwa dirinya tidak bersalah atas kematian Tuhan Yesus? Semua manusia memiliki bagian dalam dosa itu”, tegasnya di hadapan jemaat.
Ia menjelaskan bahwa seringkali manusia memandang penyaliban Yesus sebagai kesalahan pihak tertentu di masa lalu, seperti orang-orang Yahudi. Namun, secara teologis, setiap manusia memiliki keterlibatan dalam dosa yang membawa Yesus ke salib.
Menurut Zeth Tetelepta, peristiwa Jumat Agung memperlihatkan realitas kejahatan manusia yang tidak hanya bersifat individu, tetapi berkembang menjadi kekuatan kolektif bahkan struktural.
Pada masa itu, bukan hanya individu, tetapi juga tokoh agama, masyarakat, hingga penguasa terlibat dalam penolakan terhadap Yesus.
“Awalnya mungkin kebencian pribadi, tetapi ketika menjadi kelompok, berubah menjadi kejahatan besar. Ini menjadi peringatan bagi kita bahwa dosa bisa menjadi sistem jika dibiarkan”, ungkapnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa penolakan manusia terhadap Yesus berujung pada kematian, namun Yesus justru membalas penolakan itu dengan kasih. Ia rela menggantikan posisi manusia dengan menanggung hukuman yang seharusnya diterima manusia.
“Yesus mati bukan hanya untuk menebus dosa, tetapi menggantikan kita. Ia menanggung apa yang seharusnya kita tanggung”, ujarnya.
Dalam penjelasannya, ia juga menyoroti sikap Yesus yang menerima penderitaan secara total.
Dalam perjalanan menuju penyaliban, Yesus menolak minuman yang dapat mengurangi rasa sakit. Hal ini menunjukkan ketaatan penuh kepada kehendak Allah serta kesediaan menanggung penderitaan tanpa menguranginya sedikit pun.
“Itu adalah kasih yang total. Yesus tidak memilih jalan mudah, tetapi menjalani penderitaan sepenuhnya demi keselamatan manusia”, jelasnya.
Zeth Tetelepta turut mengingatkan bahwa kematian Yesus adalah konsekuensi logis dari dosa manusia, namun sekaligus menjadi bukti kasih Allah yang terbesar. Ia menekankan bahwa untuk memahami kasih Allah, manusia juga harus memahami murka Allah terhadap dosa.
“Kasih Tuhan tidak bisa dipisahkan dari keadilan-Nya. Ketika kita memahami murka Allah, di situlah kita mengerti betapa besar kasih yang diberikan melalui pengorbanan Yesus”, katanya.
Dalam refleksi yang lebih luas, jemaat diajak untuk memahami bahwa karya keselamatan Kristus tidak hanya terbatas pada manusia, tetapi juga mencakup seluruh ciptaan. Dosa manusia telah membawa dampak bagi alam semesta, sehingga penebusan Kristus bersifat menyeluruh.
“Bukan hanya manusia, tetapi tanah, hutan, laut, dan seluruh ciptaan turut terdampak oleh dosa. Karena itu, keselamatan yang dikerjakan Kristus juga untuk memulihkan seluruh ciptaan”, paparnya.
Hal ini menjadi pengingat bagi jemaat untuk menjaga relasi tidak hanya dengan Tuhan dan sesama, tetapi juga dengan lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab iman.
Di tengah berbagai pergumulan hidup yang dihadapi jemaat baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun situasi sosial pelayan firman mengajak umat untuk tidak hidup dalam ketakutan dan keputusasaan. Jumat Agung, menurutnya, justru menjadi tanda bahwa di balik penderitaan selalu ada harapan.
“Banyak orang hidup seolah tanpa harapan. Padahal melalui salib, Tuhan menunjukkan bahwa penderitaan bukan akhir dari segalanya”, ujarnya.

Ia juga menyoroti kecenderungan manusia yang sering menormalisasi dosa dengan alasan yang tampak logis. Padahal, sikap tersebut justru menjauhkan manusia dari pertobatan yang sejati.
“Kita sering membenarkan kesalahan karena dianggap biasa. Namun firman Tuhan memanggil kita untuk bertobat dan berubah, bukan menyesuaikan diri dengan dosa”, tegasnya.
Sebagai penutup, Zeth Tetelepta mengajak jemaat untuk berani hidup dalam kebenaran dan menjadi saksi Kristus di tengah dunia. Teladan Yesus adalah keberanian untuk tetap setia pada kehendak Allah meskipun harus menghadapi penderitaan dan penolakan.
“Jangan takut untuk menyatakan kebenaran. Jadilah pribadi yang berkarakter seperti Kristus, setia sampai akhir”, pesannya.
Perayaan Jumat Agung di GKI Ebenhazer Sigerau berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan penghayatan.
Jemaat mengikuti seluruh rangkaian ibadah sebagai bentuk perenungan iman, sekaligus memperbarui komitmen untuk hidup dalam kasih, kebenaran, dan pengharapan.
Melalui refleksi salib, umat diingatkan bahwa kasih Allah tidak pernah berhenti bekerja. Jumat Agung bukan hanya tentang kematian, tetapi tentang kasih yang menghidupkan, memulihkan, dan memberi harapan bagi seluruh ciptaan. (*)
Penulis: Marthina Marisan