Pemprov Alokasikan Anggaran Penanganan El Nino-La Nina, Derek Ampnir : MPA Akan Dibentuk

Kepala BPBD Provinsi Papua Barat, Derek Ampnir (Foto : Tesan/TopbNews.com)

Manokwari, TopbNews.com – Untuk pencegahan dan penanggulangan bencana, Pemerintah Provinsi Papua Barat telah mengalokasikan dukungan anggaran pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Barat untuk membiayai kegiatan kesiapsiagaan dan pencegahan untuk penanganan El Nino-La Nina di wilayah Papua Barat dan didukung dengan pengalokasian anggaran belanja tidak terduga yang cukup.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Papua Barat, Derek Ampnir yang dikonfirmasi TopbNews menyampaikan, alokasi anggaran sudah sesuai dengan kebijakan Gubernur. Dirinya berkeyakinan, dengan kurun waktu yang tersisa dapat menyelesaikan program kegiatan dengan memaksimalkan anggaran.

Ampnir menjelaskan, pihaknya akan menyusun rencana kontinjensi untuk menghadapi El Nino-La Nina. Rencana ini menjadi tolak ukur untuk penanganan jika terjadi kebakaran hutan dan banjir.

‘Kita terima kasih kepada Gubernur ada kebijakan anggaran untuk menunjang BPBD untuk penanggulangan El Nino – La Nina karena keputusan Gubernur tentang siaga sudah keluar dan tindak lanjutnya dengan alokasi anggaran,” kata Ampnir sembari menyebut alokasi anggaran sekitar 350 juta.

“Sudah sangat ideal untuk kita bisa melakukan kegiatan terutama untuk Provinsi Papua Barat kita sudah petakan lima Kabupaten yang beresiko tinggi kebakaran hutan dan lahan yaitu, Kabupaten Manokwari, Manokwari Selatan, Teluk Bintuni, Teluk Wondama dan Fakfak,” rincinya.

BPBD Akan Bentuk Masyarakat Peduli Api (MPA)

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Barat, Derek Ampnir mengatakan, akan membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) disetiap wilayah yang beresiko tinggi kebakaran hutan dan lahan. MPA akan menjadi rule model untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menangani kebakaran.

“Dengan cakupan wilayah yang luas tapi dengan pendekatan yang efektif seperti melibatkan masyarakat dan stakeholder wilayah yang luas ini bisa kita minimalisir resikonya,” ucapnya.

Ampnir mengatakan, masyarakat sudah sangat sadar tentang bencana, tinggal memberikan input dan dukungan kepada masyarakat untuk bekerja menjaga hutan dan lahannya.

“Berdasarkan assesmen kami bahwa di daerah bomberai, kebakaran terjadi disebabkan oleh perbuatan manusia. Para petani melakukan pembakaran lahan untuk kepentingan ternaknya jadi pada musim kemarau yang panjang mereka bakar supaya rumput yang hijau untuk dijadikan pakan ternak. Sehingga khusus untuk daerah peternak, mereka menjadi penyebab kebakaran. Kita sudah sampaikan hal ini kepada mereka,” jelasnya.

Dikatakan Ampnir, masyarakat yang tinggal di wilayah tertentu juga sebagai pemilik lahan oleh karena itu kehadiran masyarakat harus diperkuat dengan bantuan peralatan.

“Kebijakan Gubernur tadi sudah jelas bahwa akan ada bantuan alat kepada lima wilayah yang beresiko tinggi. Sedangkan untuk banjir dan longsor puncaknya akan terjadi di bulan November. Terjadi pergeseran terhadap La Nina,” tandasnya.

Penulis : Tesan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!