Papua: Desember yang Menjahit Luka

Oleh: Mananwir Betkaf Franky Umpain

Desember di Papua adalah sebuah rumah dengan tiga jendela. Di dalam rumah ini, waktu tidak berjalan melingkar, tapi mendaki bukit-bukit sunyi, melewati rimbun hutan yang menyimpan rahasia lebih banyak daripada yang bisa ditampung oleh buku sejarah.

mostbet

Jendela pertama, 1 Desember, adalah jendela yang selalu tertutup rapat, tapi semua orang tahu ada yang sedang mengintip dari baliknya. Ini adalah hari dimana ingatan menjadi lebih tajam dari sembilu. Di bawah bantal, penghuni rumah menyimpan rindu yang tak sempat terbaca oleh mata jauh di Jakarta. Ada doa yang dipanjatkan dalam bahasa yang paling sunyi, bahasa yang hanya dimengerti oleh akar pohon matoa dan kabut gunung. Di jendela ini, identitas bukan untuk dikibarkan, melainkan untuk dirawat seperti luka lama yang menolak untuk sembuh, tapi juga menolak untuk menyerah.

Jendela kedua, 25 Desember, adalah jendela yang terbuka lebar. Aroma Natal masuk tanpa mengetuk pintu, membawa wangi kayu bakar dan peluh orang-orang yang sibuk di dapur alam. Tuhan tidak lahir di mall yang dingin oleh AC, tapi hadir di tengah kepul asap bakar batu. Natal adalah saat dimana senjata dan kemarahan disuruh tidur siang. Masyarakat di tiap wilayah adat menjahit kembali robekan-robekan nasib dengan benang kasih. Mereka merayakan bayi yang lahir di kandang, karena mereka tahu rasanya menjadi yang terpinggirkan, yang kedinginan, dan yang hanya punya iman sebagai selimut.

Jendela ketiga, 31 Desember, adalah jendela yang menghadap langsung ke arah matahari terbit. Papua adalah jam beker bagi Indonesia. Ketika warga di wilayah barat masih sibuk berdebat di atas kasur, orang Papua sudah bangun dan mencuci muka dengan cahaya pertama.

Ibadah “Kunci Tahun” adalah cara mereka mengunci duka agar tidak ikut pindah ke kalender baru. Mereka mengunci pintu rumah tahun yang lama, membuang kuncinya ke dalam laut, dan berdiri di pantai menanti fajar.

Desember di Papua adalah perayaan tentang bertahan hidup. Tentang bagaimana tetap menjadi manusia di bawah bayang-bayang sejarah yang seringkali gelap. Mereka merayakan Desember dengan kesederhanaan seorang mama yang menyalakan pelita: yang penting bukan seberapa meriah cahayanya, tapi seberapa kuat hati kita saat lampu-lampu padam dan kita kembali sendirian dalam sunyi.

​Di ujung Desember, Papua hanya ingin satu hal: agar di tahun yang baru, mereka tidak lagi hanya jadi debu yang disapu dari meja pesta, tapi jadi bait utama dalam sebuah puisi kedamaian yang panjang dan abadi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!