
Manokwari, TopbNews.com – Kasus Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di SD Inpres 22 Wosi, Manokwari, Papua Barat pada Rabu (14/1), kembali jadi pusat perhatian.
Seorang guru, Mina Kobosibaba menuturkan, kasus roti yang berjamur dan sudah tidak layak dikonsumsi itu, diketahui setelah pembagian MBG di kelas besar.
“Awalnya MBG datang guru-guru sudah kotak-kotakan mereka punya masing-masing kelas. Pada waktu mereka mau bagi ke kelas masing-masing, anak-anak sudah mulai mau makan, di situ ada temuan bahwa roti yang dibagi-bagi itu ada yang sudah berjamur. Akhirnya di cek semua kelas, dan memang ada yang sudah berjamur, bukan roti saja, tapi disitu ada kue-kue lain juga didalam”, ujarnya.
Selanjutnya, para guru langsung mengumumkan agar makanan tidak boleh dimakan.
“Kami umumkan untuk tidak dimakan, tapi kumpul kembali supaya kami kembalikan ke pihak MBG, supaya menjadi bukti bahwa betul ada roti yang, sudah berjamur dan kue-kue lain yang sudah tidak bisa untuk dimakan lagi”, jelasnya.
Sebelum temuan itu, Mina mengungkapkan bahwa makanan untuk kelas 1 sudah terlanjur dibagikan.
“Yang sudah dibagi seperti kelas 1, mereka sudah pulang dan sudah sampai di rumah, orang tua sudah buka lihat dan orang tua juga sudah mulai sampaikan di grup Wali kelas, bahwa ini kenapa bagi rotinya sampai seperti begini, sudah tidak layak dimakan kenapa mau dibagi”, tuturnya.
Mina mengungkapkan bahwa masalah kualitas makanan sudah beberapa kali terjadi di sekolah mereka.
“Sudah beberapa kali kami komplain terkait makanan yang terlambat datang, terus ada makanan juga hampir basi, nasinya tidak masak baik-baik”, ujarnya seraya mengatakan pihak sekolah telah berulang kali menyampaikan masukan kepada MBG.
“Dengan kejadian-kejadian itu, kami sudah informasikan ke pihak MBG, Kebetulan saya juga sudah pergi ke tempatnya dan saya sudah informasikan di sana, sudah ketemu, sudah berikan masukan, sudah kasih tahu bahwa nanti kalau mau antar harus tepat waktu. Karena kami juga takut kalau anak-anak, terlanjur makan dan keracunan”, terangnya sembari berharap kejadian serupa tidak terulang. (*/TOP-02)