
Manokwari, TopbNews.com – Pesona alam Kabupaten Pegunungan Arfak kembali menarik perhatian dunia internasional. Tiga mahasiswa asal Jepang yang merupakan mahasiswa salah satu universitas di Jepang tiba di Distrik Minyambouw, Kampung Imbenti, untuk melakukan riset dan penelitian selama 10 hari.
Kunjungan ini menjadi pengalaman pertama kerja sama riset mereka di Pegunungan Arfak, Papua Barat.
Fokus penelitian diarahkan pada keanekaragaman serangga, khususnya kumbang tanduk rusa (beetles), yang hidup di kawasan hutan tropis dan dataran tinggi Arfak.
Founder Asar Papua, Krif Indou, kembali dipercaya menerima dan mendampingi para peneliti tersebut.
Ia menjelaskan bahwa Asar Papua berperan sebagai fasilitator sekaligus pendamping lapangan selama proses penelitian berlangsung.
“Pegunungan Arfak adalah rumah bagi banyak spesies unik. Ini bukan hanya destinasi wisata alam, tetapi juga laboratorium alam yang luar biasa bagi dunia penelitian”, ujar Krif, kepada TopbNews. com (12/02/2026).
Wilayah Pegunungan Arfak memang dikenal sebagai salah satu kawasan dengan biodiversitas terkaya di Papua Barat.
Berbagai spesies endemik hidup di kawasan ini, termasuk sejumlah jenis serangga yang belum banyak terpublikasi secara ilmiah.
Kondisi geografis berupa hutan tropis lebat dan dataran tinggi yang masih alami menjadikan Arfak memiliki daya tarik ilmiah yang sangat besar, khususnya bagi peneliti yang tertarik pada ekosistem pegunungan dan spesies langka.
Selain melakukan riset, ketiga mahasiswa Jepang tersebut juga memanfaatkan kesempatan untuk mengeksplorasi potensi ekowisata Arfak.
Mereka menikmati panorama alam pegunungan yang sejuk dan asri, sekaligus berinteraksi dengan masyarakat setempat di Kampung Imbenti.
Kehadiran peneliti mancanegara ini diharapkan semakin memperkuat posisi Kabupaten Pegunungan Arfak sebagai destinasi wisata berbasis konservasi dan penelitian (research tourism).
Momentum ini juga menjadi peluang besar untuk memperkenalkan kekayaan hayati Arfak ke panggung global, sekaligus mendorong upaya pelestarian lingkungan secara berkelanjutan. (*)
Penulis : Marthina Marisan