Kisah Kakek Marjan, Bertahan Berjualan Tahu dan Tempe di Usia Senja

Manokwari, Top News.com – Di tengah hiruk-pikuk Pasar Sanggeng, Manokwari, sosok Kakek Marjan masih setia menjaga lapak sederhananya. Usia senja tak menyurutkan semangatnya untuk terus bekerja. Dengan tangan yang telah puluhan tahun akrab dengan tungku dan adonan kedelai, ia bertahan demi menyambung hidup sekaligus memastikan tahu dan tempe tetap tersedia di meja makan masyarakat.

Perjalanan hidup Kakek Marjan dimulai sejak 1984. Kala itu, ia berkeliling menjajakan sayur-mayur menggunakan sepeda, memikul kangkung dan aneka sayuran dari satu gang ke gang lainnya. Panas terik hingga hujan ia lalui dengan semangat demi menghidupi keluarga.

Takdir kemudian membawanya menekuni usaha pembuatan tahu dan tempe. Kesempatan itu datang ketika seorang pemilik pabrik tahu hendak pulang kampung dan mempercayakan usahanya untuk dilanjutkan. Dengan satu syarat, Kakek Marjan harus benar-benar diajari hingga mahir. Sejak saat itu, ia memproduksi tahu dan tempe secara mandiri dan bertahan hingga puluhan tahun kemudian.

Kini, tantangan baru kembali dihadapi. Kabar keterlambatan pasokan kedelai serta potensi kenaikan harga bahan baku membuatnya diliputi kekhawatiran. Di Toko Berlian, tempat ia biasa mengambil kedelai, pasokan dikabarkan terlambat hingga sekitar 15 hari ke depan.

“Mungkin mau dinaikkan harga kedelai”, ujarnya lirih, sembari mengusap peluh di keningnya, saat ditemui media ini Kamis (29/1/2026) siang.

Bagi Kakek Marjan, menaikkan harga jual bukan pilihan yang mudah. Ia memahami kondisi ekonomi pelanggan yang sebagian besar berasal dari kalangan menengah ke bawah. Alih-alih menaikkan harga, kakek berusia 92 tahun ini memilih memperkecil ukuran tempe agar tetap terjangkau, meski keuntungan yang diperoleh menipis.

Di tengah fluktuasi harga pangan, Kakek Marjan masih mempertahankan harga yang relatif bersahabat. Tempe kecil dijual Rp5.000 untuk dua potong, tempe besar Rp5.000 per potong, sementara tahu dijual Rp10.000 untuk empat potong besar.

Kisah Kakek Marjan menjadi potret keteguhan pekerja kecil di tengah ketidakpastian ekonomi. Di usia yang seharusnya digunakan untuk beristirahat, ia tetap berjibaku dengan panas tungku dan gejolak harga pasar demi menjaga dapur warga Manokwari tetap mengepul. (*/TOP-03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!