Keterbatasan Anggaran, Petugas Kebersihan Pasar Sanggeng Keluhkan Minim Armada

Manokwari, TopbNews.com – Pengelolaan sampah di Kabupaten Manokwari menghadapi tekanan berat. Dinas terkait mengakui sebagian besar armada pengangkut sampah dalam kondisi rusak, sementara keterbatasan anggaran membuat perbaikan tersendat dan utang ke pihak bengkel terus menumpuk.

mostbet

Dari total 24 unit truk sampah yang dimiliki, 8 unit dilaporkan rusak berat dan harus turun mesin.

Kondisi ini membuat beban kerja armada yang masih beroperasi meningkat drastis.

“Yang seharusnya satu truk angkut tiga sampai empat rit sehari, sekarang terpaksa sampai tujuh bahkan delapan rit. Sopir kelelahan, BBM boros, dan risiko kerusakan makin besar,” ungkap Kepala Seksi (KASIE) Penanganan Sampah Dinas Lingkungan Hidup dan pertanahan Kabupaten Manokwari, Christovel, Selasa (27/1), kepada TopbNews. Com di ruang kerjanya.

Situasi ini diperparah dengan anggaran operasional perbaikan yang berkurang, sementara utang perbaikan kendaraan tahun sebelumnya belum terbayar. Saat ini, total tunggakan ke bengkel disebut telah mencapai sekitar Rp700–800 juta.

“Kami bukan tidak mau perbaiki, tapi kondisi keuangan sangat terbatas. Utang lama saja belum terbayar,” tambah Christovel.

Bak Sampah Pasar Sanggeng Belum Tersedia
Masalah lain muncul di Pasar Sanggeng, di mana hingga kini belum tersedia bak sampah permanen.

Padahal, tahun lalu bantuan bak sampah dari provinsi berjumlah 18 unit telah diterima, namun sebagian besar digunakan untuk mengganti bak lama yang sudah rusak dan tidak layak pakai.

Khusus untuk Pasar Sanggeng, dinas belum bisa menempatkan bak karena harus menunggu pembangunan bak baru dan penentuan lokasi di area pasar yang telah ditata ulang.

“Tidak mungkin kami ambil bak dari tempat lain lalu pindahkan begitu saja. Nanti lokasi asalnya bagaimana? Jadi harus bak baru, dengan tempat yang sudah disiapkan,” jelas Christovel.

Meski begitu, dinas menegaskan pengangkutan sampah pasar tetap berjalan, walau dengan beban berat pada armada yang tersisa. Sampah pasar bahkan harus diangkut dua kali sehari karena cepat menimbulkan bau.

Kewenangan Terpecah, Penanganan Tak Maksimal Dinas juga menyoroti persoalan kewenangan. Untuk urusan kebersihan di dalam area pasar, tanggung jawab sosialisasi kepada pedagang bukan berada di dinas kebersihan.

“Kami hanya siapkan bak dan angkut sampah. Sosialisasi ke pedagang agar bungkus rapi dan buang di tempatnya itu kewenangan pengelola pasar,” ujar Christovel.

Sementara itu, pengadaan tambahan bak sampah baru masih menunggu keputusan perencanaan daerah. Tahun ini dinas mengusulkan lima unit bak tambahan, menyesuaikan kemampuan anggaran daerah.

“Kalau ideal, kebutuhan kita di atas 20 bak lagi. Tapi kita realistis sesuai kemampuan keuangan daerah,” katanya.

Pelayanan Dipertahankan di Tengah Keterbatasan Di tengah berbagai keterbatasan, dinas menegaskan tetap berkomitmen menjaga pelayanan agar sampah tidak menumpuk, terutama di titik-titik padat seperti pasar.

“Pada prinsipnya kami siap kerja. Yang penting ada dukungan sarana dan anggaran. Karena kalau armada terus dipaksa kerja berat tanpa perbaikan, lama-lama semua bisa berhenti,” tutup Christovel.

Kondisi ini menjadi alarm serius bahwa persoalan sampah bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga soal ketahanan armada, dukungan anggaran, dan koordinasi lintas instansi. Tanpa pembenahan menyeluruh, krisis sampah berpotensi semakin meluas.

Penulis : Marthina Marisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!