Cakupan Program TBC Rendah di Kota Jayapura, Dinkes Gandeng Tokoh Agama

Jayapura, TopbNews.com – Pemerintah Kota Jayapura terus berkomitmen untuk menekan laju angka penularan Tuberkulosis (TB) di wilayahnya.

mostbet

Ini mengacu pada komitmen global dan nasional dalam mengakhiri TB yang dituangkan End TBC Strategy pada tahun 2030.

Hal ini disampaikan Kepala Seksi P2PM Dinkes Kota Jayapura, Yusnita Pabeno dalam pertemuan sosialisasi dan penjaringan tuberkulosis massal, Rabu 9 Juli 2025.

“Dalam mengakhiri TB hanya dapat dicapai dengan mengkombinasikan upaya pengobatan TBC aktif secara efektif dan upaya pencegahan dengan pemberian Terapu Pencegahan Tuberkulosis (TPT) pada kasus Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)”, katanya.

Yusnita menyebut, capaian program TBC di kota Jayapura masih dibawah target nasional dan tercatat dari Januari hingga Juni 2025 tercatat kasus TBC sebanyak 1.337 kasus atau 27 persen dari target 90 persen.

“Berdasarkan data per 5 Juli 2024 cakupan penemuan kasus TB (Treatment Coverage) pada 2024 sebesar 25,37% dari target 90 %”, paparnya.

Dia menambahkan, pada 2024 melalui screaning massal yang dilakukan Dinkes Kota Jayapura di 32 lokasi yakni beberapa sekolah, kampus, asrama mahasiswa, lembaga pemasyarakatan (lapas) bahkan tempat peribadatan terdapat 23 kasus dengan jumlah yang diperiksa sebanyak 11.773.

“Dari angka diatas menggambarkan masih rendahnya pencarian target program TB di kota jayapura sehingga dipandang perlu dilakukan investigasi kontak secara massal kembali di kantong kantong TB dan di lokasi yang diyakini memiliki kontak erat dengan pasien TB”, tegasnya.

Direncanakan, Pemkot Jayapura akan menerbitkan edaran bagi semua tempat umum untuk dilakukan screaning massal guna memutus mata rantai penyebaran TBC di kota Jayapura diantaranya di tempat peribadatan dan kampus.

Sehingga diharapkan partisipasi aktif dari seluruh tokoh agama di kota jayapura untuk bersama sama berkolaborasi menekan laju penurunan TBC.

Sementara itu dr. Viktor Manuputy spesialis paru di papua dalam materi yang diberikan mengatakan, Tuberkulosis merupakan penyakit yang telah ada sejak 1000th SM sehingga terapi TB sangat penting bagi setiap warga.

“Tuberkulosis dapat terdeteksi melalui berbagai metode pemeriksaan. Pemeriksaan umum yang dilakukan yakni melalui pemeriksaan dahak, tes darah dan tes kulit (Mantoux)”,

Dia menyebut, Tuberkulosis ada yang bergejala (aktif) dan ada juga yang tidak bergejala (laten) sehingga penting untuk dipahami perbedaan TB aktif dan TB paten.

“TB aktif ditandai dengan gejala seperti batuk lebih dari 2-8 minggu, penurunan berat badan, demam, keringat pada malam hari dan nyeri dada serta dapat menular. Sementara TB laten cenderung tidak bergejala namun bakteri pada TB laten dapat menjadi aktif dan menyebabkan TB aktif jika sistem kekebalan tubuh melemah. Dan kelompok yang beresiko tinggi seperti penderita HIV AIDS, Kontak serumah dengan penderita TB aktif”, sebutnya.

Dia menambahkan, Pencegahan melalui TPT menjadi paling tepat bagi mereka yang terduga terinfeksi TBC. (*)

Penulis : Rachel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!