Bupati Yohanis Manibuy: Orang Tua Harus Pahami Karakter Anak, Bukan Sekadar Menyekolahkan

Bintuni, TopbNews.com – Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, menekankan pentingnya peran orang tua dalam memahami karakter, kebutuhan psikologis, serta perkembangan anak di tengah perubahan zaman.

Menurutnya, pengasuhan tidak cukup hanya dengan menyekolahkan anak, tetapi harus disertai pendampingan dan pembentukan karakter sejak dari lingkungan keluarga.

Pesan tersebut disampaikan Yohanis Manibuy saat menghadiri dan Membuka Seminar Parenting yang diselenggarakan Yayasan Pemerhati Perempuan dan Anak (PHAPEDA) yang Berkolaborasi dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Teluk Bintuni, Selasa (3/11), dengan mengusung tema “Kenali Hatinya, Pahami Karakternya, Bimbing Masa Depannya”.

Seminar tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Ina Liem dan Simon, Ph.D., seorang psikolog. Kegiatan ini secara khusus ditujukan kepada para ibu sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman tentang pola pengasuhan anak yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Bupati Yohanis Manibuy menyampaikan apresiasi kepada Yayasan PHAPEDA atas inisiatif dan kepeduliannya yang untuk kedua kalinya menyelenggarakan seminar parenting di Kabupaten Teluk Bintuni.

Ia menilai kegiatan tersebut merupakan kontribusi nyata dalam memperkuat keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter generasi muda.

Menurutnya, tantangan mendidik anak saat ini berbeda dengan pola pengasuhan pada masa lalu. Karena itu, nilai-nilai pengasuhan yang baik tetap perlu dipertahankan, tetapi penerapannya harus menyesuaikan perkembangan zaman dan kebutuhan anak.

“Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, mandiri, dan berkarakter. Namun, tantangan dalam mendidik anak-anak kita saat ini tentu berbeda dengan zaman ketika kita dibesarkan dahulu”, ujarnya.

Yohanis mencontohkan, pola pendisiplinan anak yang dahulu kerap menggunakan hukuman fisik perlu disesuaikan dengan pendekatan yang lebih mendidik.

Orang tua, katanya, dapat menerapkan aturan dan batasan yang jelas serta mengajarkan kedisiplinan sebagai bentuk tanggung jawab dan kasih sayang dalam membimbing anak.

Selain itu, ia menyoroti tantangan penggunaan teknologi, seperti gadget, telepon genggam dan iPad, yang semakin dekat dengan kehidupan anak-anak.

Menurutnya, kemajuan teknologi, perubahan pola pergaulan, serta perkembangan sistem pembelajaran di sekolah menuntut orang tua untuk lebih aktif mendampingi anak.

“Orang tua harus hadir bukan hanya untuk mengawasi, tetapi juga mendampingi, memimpin, dan menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak untuk berbagi cerita”, tegasnya.

Ia berharap melalui seminar tersebut, para peserta semakin memahami bahwa mengenali karakter, memahami perasaan, serta memenuhi kebutuhan psikologis anak merupakan bagian penting dari proses pengasuhan.

Yohanis juga mengingatkan bahwa pembentukan karakter dan kesiapan mental anak harus dimulai dari rumah, bukan hanya diserahkan kepada pihak sekolah.

“Mari belajar bersama menjadi orang tua yang tidak hanya menyekolahkan anak, tetapi juga dapat mendampingi, membentuk karakter, dan menyiapkan mental anak-anak kita sejak dari rumah dalam kehidupan sehari-hari”, pesannya.

Ia berharap pengetahuan yang dibagikan kedua narasumber dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga sehari-hari guna mempersiapkan generasi Teluk Bintuni yang unggul, berdaya saing, dan mampu mengambil bagian dalam pembangunan daerah maupun bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

Sementara itu, Ketua Yayasan PHAPEDA, Christine Eveline Mustamu, dalam laporannya menjelaskan bahwa seminar tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada para ibu mengenai pentingnya mengenali karakter dan potensi setiap anak.

Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat membekali para ibu dalam mendampingi serta mengarahkan pendidikan anak sesuai kemampuan dan potensinya, sekaligus mendorong terciptanya komunikasi yang baik antara ibu dan anak di lingkungan keluarga.

Ia menegaskan bahwa masa depan anak-anak Teluk Bintuni berawal dari keluarga yang bersedia mendengar, memahami, dan membimbing mereka dengan penuh kasih.

Pada kesempatan yang sama, narasumber Ina Liem menyampaikan keyakinannya bahwa anak-anak Papua memiliki potensi luar biasa yang perlu dikembangkan melalui peran aktif orang tua, khususnya para ibu.

Ia juga mengajak para ibu untuk berani mengambil peran dan menjadi teladan bagi anak-anak, termasuk dalam lingkungan sosial dan kegiatan kemasyarakatan.

“Jangan mau selalu tertinggal di belakang. Kita mau Papua di depan. Papua di depan dimulai dari siapa? Dari mama”, ungkapnya.

Ina Liem menilai keberanian seorang ibu untuk tampil dan mengambil bagian dalam berbagai kesempatan dapat menjadi contoh positif bagi anak-anak agar memiliki kepercayaan diri dan keberanian untuk maju.

Melalui seminar parenting ini, Yayasan PHAPEDA berharap para ibu di Teluk Bintuni semakin memahami pentingnya pola pengasuhan yang mengedepankan komunikasi, kedekatan emosional, serta pendampingan sesuai karakter dan kebutuhan anak demi mempersiapkan masa depan generasi penerus daerah. (*)

Penulis: Marthina Marisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!