Berjaga dan Berdoa di Tengah Penderitaan, Pesan Kuat Minggu Sengsara VI di GKI Rafidim Muturi

Bintuni, TopbNews.com – Suasana khidmat dan penuh perenungan mewarnai Ibadah Minggu Sengsara Tuhan Yesus ke-VI yang digelar di Gereja GKI Rafidim Muturi, Bintuni, Minggu (22/3).

mostbet

Ibadah yang diikuti oleh 93 jemaat itu mengangkat tema “Tetap Berjaga dan Berdoa di Tengah Penderitaan”. Tema ini mengajak umat untuk merenungkan makna kesetiaan iman di tengah pergumulan hidup.

Dalam khotbahnya, Sekretaris Klasis GKI Teluk Bintuni periode 2022–2027, Pdt. Yohanis Lanta, menyoroti momen menjelang penderitaan Tuhan Yesus di taman Getsemani sebagai gambaran nyata pergumulan iman manusia.

Ia menjelaskan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar kisah terakhir Yesus bersama murid-murid-Nya, melainkan sebuah refleksi tentang kelemahan manusia dalam menghadapi ujian iman.

“Realita iman itu berbicara tentang kemampuan bertahan. Simon Petrus ingin setia, tetapi kenyataannya mereka belum siap menghadapi penderitaan”, ungkapnya.

Pdt. Lanta juga mengingatkan jemaat agar berhati-hati dengan setiap komitmen iman yang diucapkan, sebab kesetiaan tidak hanya diuji dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan saat menghadapi tekanan hidup.

Menurutnya, kunci utama untuk tetap setia adalah dengan terus berjaga-jaga dan berdoa, sebagaimana yang diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya.

“Kita ini lemah, tetapi ketika kita datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati, biarlah kehendak Tuhan yang terjadi dalam hidup kita”, tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa dunia tidak lepas dari penderitaan yang bisa datang kapan saja. Oleh karena itu, setiap orang percaya dituntut memiliki hati yang taat kepada Tuhan, bahkan di tengah situasi yang paling sulit sekalipun.

Ibadah Minggu Sengsara ini pun menjadi momentum penting bagi jemaat untuk memperkuat iman, menjaga komitmen rohani, serta semakin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa.

Dengan pesan yang mendalam, ibadah tersebut diharapkan mampu membangkitkan kesadaran umat untuk tetap setia, waspada, dan bergantung kepada Tuhan dalam setiap musim kehidupan. (*)

Penulis: Marthina Marisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!