Berharap Langit Sedikit Bersahabat…

Oleh : G. Nadia Fernanda

mostbet

HUJAN yang turun sejak siang tidak menyurutkan langkah Neli Rumere, ibu asli papua, untuk menjaga lapak kembang api miliknya, tepat di samping Toko Umega, Kota Manokwari, Rabu (3/12/2025).

Dengan tubuh sedikit basah diterpa hujan, ia tetap berdiri sambil merapikan plastik berisi dagangan kembang api yang mulai lembap. Lapak kecil itu sudah menjadi tempatnya mencari nafkah sejak Tahun 2014. Utamanya jelang akhir tahun tiba.

Setiap memasuki bulan November hingga Desember, Neli menceritakan para pedagang ecerean wajib mengikuti kebijakan agen kembang api. Bermula ia akan bergegas mengambil stok di salah satu agen toko kembang api di Manokwari. Sistem penjualan sederhana, namun sangat membantu pedagang kecil seperti dirinya. Ia mengambil barang terlebih dahulu sesuai nota, kemudian setelah seluruh hasil penjualan di hitung, sisa uang akan menjadi haknya sebagai keuntungan.

“Jadi kita tidak rugi. Kalau tidak habis terjual, tinggal hitung saja sesuai barang yang kembali. Sistem seperti ini sangat menolong,” ujarnya sambil mengusap air hujan yang menempel di dahinya.

Bila suasana ramai, penghasilannya bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah dalam satu musim penjualan. Namun keberuntungan itu juga sangat bergantung pada cuaca. Dan hari itu, lapaknya tampak sepi, hanya sesekali pengendara melambatkan motor untuk menengok atau sekedar berhenti untuk parkir.

Ia menuturkan, peraturan dari Polda Papua Barat juga menjadi batas bagi para penjual. Mereka hanya diperbolehkan berjualan hingga tanggal 3 Januari. Jika ada yang melanggar, sanksi akan dikenakan kepada ppedagang dan selanjutnya mereka diarahkan kepada agen untuk proses berikutnya. Neli sendiri selalu mematuhi aturan. Jika stoknya belum habis, ia menyimpan dagangannya untuk tahun berikut.

“Kalau ada yang sudah tidak bagus, itu biasanya saya kasih saja ke anak kecil untuk main,” ucapnya sambil tersenyum kecil.

Lapaknya buka dari pukul 09.00 WIT pagi hingga malam hari, mengikuti alur keramaian pusat kota. Harga kembang api yang dijual bervariasi, mulai dari Rp. 1.000,- hingga Rp. 250.000,-. Untuk beberapa jenis yang lebih mahal, pembeli masih bisa melakukan tawar-menawar. Lokasinya yang berada di area ramai membuat peluang pembelian lebih besar, setidaknya saat hujan tak sedang mengguyur.

Namun di tengah derasnya air hujan hari itu, ia hanya bisa menunggu, berharap langit sedikit bersahabat agar pembeli kembali berdatangan.

Di sela wawancara, Neli menyampaikan harapan dengan suara lirih namun penuh keteguhan. “Saya cuma berharap tahun-tahun kedepan jualan ini tetap aman, tidak ada kendala. Cuaca juga semoga baik, supaya bisa dapat rezeki untuk anak-anak. Ini saja yang saya bisa kerja, jadi saya mau tetap bertahan.”

Dengan langkah kecilnya setiap akhir tahun, Neli Rumere terus berjuang di tengah hujan, aturan ketat, dan ketidakpastian pembeli, berharap cahaya kembang api yang ia jual dapat menerangi sedikit beban hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!