
Manokwari Selatan, TopbNews- Penjabat Gubernur Papua Barat, Paulus Waterpauw didampingi Pj. Ketua Tim Penggerak PKK, Roma Megawanti Waterpauw dan sejumlah Pimpinan OPD, Selasa (6/6) berkunjung ke Manokwari Selatan.
Kunker tersebut membahas Percepatan Penurunan Stunting dan Penanganan Kemiskinan Ekstrem bersama pejabat di Manokwari Selatan.
Penjabat Gubernur Waterpauw, mencontohkan kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang sering blusukan menjadi fokus dirinya mengurai permasalahan di masyarakat. Menurutnya, Stunting dan Kemiskinan Ekstrem menjadi kewajiban semua pihak untuk menyelesaikannya.
“Bersyukur hari ini kita bahas sesuatu yang penting. Stunting dan kemiskinan ekstrim kebijakan negara. Yang sibuk di Republik hanya Presiden, jadi jangan bikin diri hebat. Hari ini saya mau ungkap persoalan di Mansel. Saya janji mau bikin beres, mulai dari Stunting,” Tegasnya.
Ia menekankan kehadirannya bersama rombongan harusnya diterima dengan sukacita karena bertujuan membawa catatan baik. Sehingga apabila tidak ditindaklanjuti secara berjenjang maka akan gagal dalam mencetak generasi emas bagi negara Indonesia, Papua Barat dan terkhususnya Kabupaten Manokwari Selatan. “Ini wajib menjadi perhatian serius dan tidak main-main, apalagi membanggakan program dan kegiatan tetapi masih memiliki masalah tersebut,” ujarnya.
Dijelaskan Pj. Gubernur Waterpauw bahwa semua yang dilakukan berlandaskan Perpres No. 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Sesuai data, angka prevalensi stunting di Papua Barat naik menjadi 30% tahun 2022 dari sebelumnya 26,2% di tahun 2021. Pemerintah pusat juga telah memberikan target hingga 2024 kontribusi penanganan hingga 14%.
“Saya mewakili pimpinan negara, mewakili pemerintah pusat harus melihat juga daerah-daerah. Kalau kita kerjasama, selesai barang ini (stunting dan kemiskinan esktrem). Program bagus, aparat bagus, dapat predikat WTP tapi hasilnya masyarakat masih cacat begini, artinya tidak bagus,” terangnya.
Sementara Wakil Bupati Kabupaten Manokwari Selatan, Wempi Welly Rengkung melaporkan, gambaran dalam percepatan stunting tahun 2022 dimana 91 anak terindikasi stunting tersebar di 6 distrik, diantaranya Oransbari 54 orang, Ransiki 14 orang, Nenei 6 orang dan Distrik Tahota 1 orang.
Tahun 2023, jumlah anak Stunting di distrik Oransbari 53 orang, Ransiki 25 orang, Momiwaren 20 orang, Nenei 15 orang, dan Tahota 3 orang. Sedangkan untuk dataran Isim yang tidak ditemukan kasus pada tahun 2022, baru ditemukan data sebanyak 23 orang pada tahun 2023. Sehingga total keseluruhan berjumlah 139 orang.
Untuk kemiskinan Ekstrem tahun 2022 sebanyak 1.469 dari data semula 1.800 kasus. Tahun 2023 mengalami penurunan sebanyak 485 sehingga total kasus kemiskinan ekstrem di Mansel adalah 984 kepala keluarga.
Penulis : Tesan