14 Naskah Cerita Rakyat Tujuh Suku Lolos Kurasi, Disperpus Bintuni Siapkan Buku Warisan Budaya

Bintuni, TopbNews.com – Sebanyak 14 naskah cerita rakyat dari masyarakat tujuh suku di Teluk Bintuni dinyatakan lolos kurasi. Naskah tersebut dipilih dari 32 naskah yang masuk dalam program penulisan cerita rakyat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Disperpus) Kabupaten Teluk Bintuni.

Ke-14 naskah terpilih akan mengikuti workshop dan bedah naskah bersama praktisi literasi pada 23–25 September 2026.

Kepala Bidang Perpustakaan Disperpus Teluk Bintuni, Robert I. Parantean mengatakan program ini merupakan langkah konkret menyelamatkan cerita dan legenda tujuh suku agar tidak hilang.

“Sebanyak 32 artikel yang masuk. Setelah kurasi tahap pertama, ada 14 naskah yang dinyatakan lolos,” ujar Robert, Senin (7/9/2026).

Sementara 18 naskah lainnya belum lolos karena terlambat dikumpulkan, jumlah kata belum memenuhi ketentuan, serta ditemukan plagiasi dan penggunaan AI dalam penulisan.

Ke-14 penulis yang lolos adalah Ronald Fandi Frabun, Glorina Ferdinanda Awak, Andris Kristiono, Dewi Julita Pakpahan, Firna Hahury, Nova Astrid Pattiasina, Tantowi Djauhari, Septon Asmuruf, Katharina Ernesta Londa, Hasnah, Florida Mabaha, George Orolaleng, Joko Royanto dan Ferdinandus Usfinit.

Robert menjelaskan naskah yang lolos akan diperkuat melalui workshop dan bedah naskah. Setelah itu akan dicetak menjadi buku cerita rakyat sebagai aset Disperpus Teluk Bintuni.

“Targetnya bukan sekadar tersimpan di arsip, tetapi menjadi buku yang bisa dibaca masyarakat luas,” jelasnya.

Ia juga berharap 18 naskah yang belum lolos tetap dititipkan ke Disperpus untuk diprogramkan dalam penerbitan buku edisi kedua.

Menurut Robert, pendokumentasian cerita rakyat penting untuk menjaga identitas budaya Teluk Bintuni. Cerita asal-usul, legenda, dan kearifan leluhur yang selama ini disampaikan secara lisan rentan hilang.

“Kalau hanya diceritakan secara lisan, lama-lama warisan budaya leluhur bisa punah ketika para tokoh adat sudah tidak ada lagi,” pungkasnya.

Melalui program ini, Disperpus berupaya mengunci cerita masa lalu dalam bentuk tulisan agar warisan budaya tujuh suku dapat terus dibaca generasi Teluk Bintuni mendatang. (*)

Penulis: Marthina Marisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!