Adat Teguh Dijaga, Pembangunan Pelabuhan Babo Diawali Izin kepada Leluhur

Babo TopbNews.com – Pembangunan Pelabuhan Teluk Bintuni di Distrik Babo tidak langsung diawali dengan peletakan batu pertama. Sebelum dimulainya ground breaking pada Rabu (5/8/2026), masyarakat adat terlebih dahulu menggelar prosesi adat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan permohonan izin agar pembangunan berjalan aman, lancar, serta membawa manfaat bagi generasi mendatang.

Bagi masyarakat adat Babo, tanah bukan sekadar hamparan yang dapat dibangun begitu saja. Ada keyakinan yang diwariskan turun-temurun bahwa sebelum manusia menetap di suatu wilayah, bumi telah lebih dahulu dihuni oleh makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Karena itu, setiap pembangunan berskala besar wajib diawali dengan “permisi” kepada para penjaga alam dan leluhur sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai adat yang masih dijaga hingga kini.

Prosesi adat dipimpin oleh tetua adat, Muhammad Arum Refideso dengan menggunakan bahasa daerah.

Doa-doa adat dipanjatkan sambil menyampaikan harapan agar seluruh tahapan pembangunan pelabuhan berlangsung tanpa hambatan dan seluruh pekerja diberikan perlindungan.

Sebagai bagian dari ritual, masyarakat adat menyiapkan sirih, pinang, dan tembakau yang menjadi simbol penghormatan kepada leluhur.

Tradisi tersebut telah berlangsung turun-temurun dan selalu dilakukan ketika masyarakat hendak memulai pembangunan rumah, fasilitas umum, maupun proyek infrastruktur di atas tanah adat.

Setelah doa dipanjatkan, ritual dilanjutkan dengan penyembelihan seekor sapi yang sebelumnya dimandikan dan menjalani serangkaian prosesi adat.

Sebelum penyembelihan dilakukan, Bupati Teluk Bintuni Yohanis Manibuy, Wakil Bupati Joko Lingara, perwakilan Komando Daerah Angkatan Laut Sorong, serta Dinas Perhubungan Provinsi Papua Barat turut melemparkan koin ke lokasi ritual sebagai bagian dari tradisi adat yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Darah hewan kurban kemudian ditempatkan pada titik-titik tertentu di kawasan pembangunan sebagai simbol permohonan perlindungan.

Sementara itu, kepala dan kaki sapi dibungkus lalu ditanam sesuai ketentuan adat sebagai bagian dari prosesi sakral yang diyakini membawa keselamatan bagi seluruh aktivitas pembangunan.

Suasana prosesi semakin khidmat ketika salah seorang pemilik hak ulayat mengalami pengalaman spiritual yang oleh masyarakat diyakini sebagai pertanda kehadiran roh leluhur untuk menyaksikan jalannya ritual.

Momen tersebut memperlihatkan betapa eratnya hubungan masyarakat adat Babo dengan warisan budaya yang terus dipertahankan di tengah pembangunan modern.

Tokoh agama, Bakti Alkatiri mengatakan ritual adat bukanlah bentuk pemujaan, melainkan ungkapan rasa hormat kepada leluhur dan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Ritual ini adalah bentuk penghormatan dan persembahan kepada leluhur. Kami memohon izin kepada pemilik wilayah agar pembangunan berjalan lancar dan semua pekerja yang terlibat diberikan keselamatan”, ujarnya.

Menurut Bakti, filosofi meminta izin sebelum memulai pembangunan merupakan bagian dari kearifan lokal yang mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam, menghormati tanah yang akan ditempati, serta tidak melupakan sejarah dan nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur.

Ia menjelaskan, penggunaan sirih, pinang, tembakau, hingga pelemparan koin memiliki makna simbolis sebagai ungkapan penghormatan.

Sementara hewan kurban tidak harus berupa sapi, melainkan dapat disesuaikan dengan kemampuan masyarakat.

“Yang terpenting adalah niat untuk meminta restu dan keselamatan. Hewan kurban bisa sapi, ayam, atau lainnya sesuai kemampuan masyarakat”, katanya.

Prosesi adat tersebut menjadi pesan bahwa kemajuan pembangunan tidak harus menghilangkan identitas budaya. Di Babo, pembangunan Pelabuhan Teluk Bintuni justru diawali dengan penghormatan terhadap adat sebagai fondasi utama.

Dengan restu leluhur dan dukungan masyarakat adat, pelabuhan yang akan menjadi penggerak konektivitas dan pertumbuhan ekonomi Teluk Bintuni itu diharapkan membawa kesejahteraan tanpa meninggalkan akar budaya yang telah mengakar kuat dari generasi ke generasi. (*)

Penulis : Marthina Marisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!