
Bintuni, TopbNews.com – Keberhasilan Kabupaten Teluk Bintuni sebagai tuan rumah Pesparani Katolik IV Tingkat Provinsi Papua Barat mendapat apresiasi luas.
Pimpinan Keuskupan Manokwari-Sorong Mgr. Hilarion Datus Lega dan Ketua I LP3KN Romo Yohanes Kurnianto Jeharut menilai penyelenggaraan berlangsung sukses dan penuh semangat persaudaraan.
Dalam pembukaan, Mgr. Hilarion menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Teluk Bintuni atas dukungan penuh, mulai kesiapan tuan rumah hingga pendanaan.
Secara khusus ia mengapresiasi Wakil Bupati Joko Lingara selaku Ketua Panitia, Bupati Yohanis Manibuy, dan seluruh jajaran pemerintah daerah.
“Atas nama Komisi Pengembangan Paduan Suara Gereja Katolik Keuskupan Manokwari-Sorong, kami ucapkan terima kasih kepada Pak Wakil Bupati Joko Lingara, Pak Bupati, dan seluruh jajaran Pemkab Teluk Bintuni yang telah menerima kami dengan penuh sukacita dan dukungan yang sangat membanggakan,” ujarnya.

Uskup juga menyambut kontingen dari 6 kabupaten di Papua Barat dan para tamu undangan. Ia memuji semangat Joko Lingara menghadirkan Pesparani berkualitas di Teluk Bintuni.
“Saya mendukung semangat dan cita-cita Pak Joko. Tidak ada salahnya punya ambisi menghadirkan yang terbaik demi kemajuan Gereja dan masyarakat,” katanya disambut tepuk tangan peserta.
Menurutnya, kehadiran unsur pemerintah, Forkopimda, kepala daerah, dan tokoh masyarakat bukan sekadar seremoni, melainkan simbol kebersamaan membangun Papua Barat lewat nilai persaudaraan, toleransi, dan iman.
“Pesparani bukan hanya lomba paduan suara. Ini seni suara yang memuliakan Tuhan, sekaligus mengangkat harkat dan martabat manusia. Dari tanah Papua, dari negeri Burung Cenderawasih, semoga semangat persaudaraan ini terus tumbuh dan jadi berkat bagi semua,” tutupnya.
Ketua I LP3KN, Romo Yohanes Kurnianto Jeharut juga mengapresiasi suksesnya penyelenggaraan di Teluk Bintuni. Ia menilai daerah ini berhasil menghadirkan suasana persaudaraan yang melibatkan semua elemen, tanpa memandang agama dan budaya.

“Pesparani bukan hanya ajang seni liturgi, tapi juga wadah pembinaan umat dan pelestarian budaya lokal yang memperkaya liturgi Gereja Katolik di Indonesia,” ujarnya.
Ia menegaskan dukungan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota penting agar pembinaan peserta berjalan berkelanjutan.
“Pesparani harus mencerminkan tanggung jawab, solidaritas, dan persaudaraan di antara kita,” katanya.
Romo Yohanes mengaku merasakan kehangatan masyarakat Teluk Bintuni sejak tiba.
“Saya merasakan sendiri sejak dijemput. Ini bukan hanya pesta Gereja Katolik, tapi pesta seluruh warga Teluk Bintuni,” ungkapnya.
Ia berharap Teluk Bintuni dikenal karena cerita kerukunan, keindahan seni, dan sukacita, bukan hanya konflik.
“Kita ingin banyak orang tahu bahwa dari Papua Barat lahir cerita tentang persaudaraan, kehangatan, keindahan seni, dan sukacita yang bisa dibagikan ke semua orang,” ujarnya.
Menutup sambutan, ia ajak seluruh kontingen tampil terbaik dengan sportivitas dan persaudaraan. Ia juga mengundang peserta bertemu lagi di Pesparani Katolik Nasional Manado 2028. (*)
Penulis : Marthina Marisan