
Pegaf, TopbNews.com – Selama 10 hari melakukan penelitian kumbang tanduk rusa di Kampung Mbenti, Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat, tiga mahasiswa asal Jepang akhirnya kembali ke negaranya dengan membawa kesan mendalam tentang keindahan alam dan kehangatan masyarakat setempat.
Penelitian yang difasilitasi oleh Founder Asal Papua Krif Indou, tidak hanya menjadi agenda akademik semata, tetapi juga momentum mempererat hubungan lintas budaya antara masyarakat Kampung Mbemti dan para mahasiswa dari salah satu universitas di Jepang tersebut.
Krif Indou menjelaskan, potensi wisata dan kekayaan biodiversitas di Kabupaten Pegunungan Arfak tidak kalah indah dan bernilai ilmiah dibandingkan daerah lain di Indonesia bahkan dunia.
“Untuk melakukan penelitian yang berhubungan langsung dengan alam, tidak perlu pergi jauh. Mahasiswa Jepang saja bisa datang dan meneliti kumbang tanduk rusa di Pegunungan Arfak. Ini tamparan keras bagi kita bahwa tanah ini adalah surga”, tegas Krif.
Menurutnya, keberadaan spesies kumbang tanduk rusa menjadi bukti bahwa Arfak memiliki ekosistem hutan yang masih terjaga dan menyimpan potensi riset kelas dunia.
Kehangatan Kampung Mbenti

Selama berada di Kampung Mbemti, para mahasiswa tidak hanya melakukan observasi dan pengambilan data, tetapi juga berinteraksi langsung dengan warga.
Kehangatan, keramahan, dan semangat gotong royong masyarakat menjadi pengalaman tak terlupakan bagi para peneliti muda tersebut.
Warga setempat berharap kunjungan ini tidak menjadi yang terakhir. Mereka menginginkan adanya perhatian serius dari pemerintah daerah agar kegiatan penelitian dan wisata edukasi terus berlanjut.
“Kami berharap Pemerintah Pegunungan dan Dinas Pariwisata bisa bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Provinsi Papua Barat dalam setiap kegiatan yang berkaitan dengan pariwisata dan pelatihan-pelatihan”, jelas Krif.
Ia menegaskan bahwa momentum ini seharusnya menjadi perhatian khusus bagi pemerintah daerah.
Menurutnya, sektor pariwisata berbasis riset dan konservasi dapat menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat Pegunungan Arfak.
“Ini bukan hanya soal penelitian kumbang. Ini tentang bagaimana kita menjaga, mempromosikan, dan mengelola surga ini dengan baik. Pemerintah daerah harus melihat ini sebagai peluang besar”, ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah Kabupaten, Provinsi, dan komunitas lokal sangat penting untuk menghadirkan pelatihan kepariwisataan, peningkatan kapasitas masyarakat, serta promosi destinasi berbasis ekowisata.
Dengan berakhirnya penelitian ini, Pegunungan Arfak kembali membuktikan diri sebagai salah satu surga biodiversitas Indonesia.
Tinggal bagaimana komitmen semua pihak untuk menjaga dan mengembangkan potensi tersebut demi kesejahteraan masyarakat setempat. (*)
Penulis : Marthina Marisan