Joan Pemeran Teh Isy: “Film Ini Bukan Sekadar Film, Ini Cerita Saya sebagai Anak Papua”

Manokwari, TopbNews.com – Keterlibatan Joan, salah satu pemeran dalam film “Teman Tegar: Maira Whisper From Papua”, bukan sekadar pengalaman akting, melainkan perjalanan personal sebagai seorang anak Papua yang tumbuh besar bersama alam dan realitas tanah kelahirannya.

mostbet

Dalam film ini, Joan berperan sebagai Teh Isy, karakter yang membawa Tegar “pulang kampung” ke tanah kelahirannya di Papua, dimana petualangan bersama Maira dimulai. 

“Secara pribadi, film ini bukan sekadar film, tapi ini adalah cerita saya sebagai seorang anak Papua yang tumbuh besar di alam Papua”, ujar Joan saat diwawancarai usai special screening film, Rabu (15/1) malam.

Joan mengungkapkan bahwa Papua bukan hanya tentang keindahan alam yang luar biasa, tetapi juga tentang manusia-manusianya yang penuh talenta. Namun, menurutnya, sering kali masyarakat Papua tidak mendapatkan ruang dan kesempatan untuk menunjukkan potensi tersebut.

“Saya melihat Papua bukan cuma alamnya yang indah, tapi manusianya juga sangat bertalenta. Hanya saja, kita kadang tidak mendapatkan kesempatan”, katanya.

Film “Teman Tegar: Maira Whisper From Papua” disebut Joan sebagai mimpi pribadinya yang terwujud setelah 15 tahun. Film ini mempertemukannya dengan banyak pihak yang akhirnya memberikan kepercayaan dan ruang berkarya.

“Film ini sebenarnya mimpi saya selama 15 tahun. Ketika akhirnya diberikan kesempatan, saya pegang itu sungguh-sungguh, karena saya tahu ini bukan sekadar film. Ini tentang mengabadikan cerita kita lewat gambar dan visual, untuk generasi ke depan”, ujarnya.

Joan menjelaskan bahwa proses pembuatan film ini tidaklah mudah. Riset dilakukan selama hampir dua tahun dengan menyusuri pedalaman Papua, pesisir pantai, hingga berjalan kaki selama dua hari melewati hutan, sungai, rawa, dan kembali masuk hutan.

“Semua yang ada di dalam film ini adalah perjalanan kami. Perjalanan riset, perjalanan bertemu anak-anak di pedalaman yang mungkin belum bisa membaca, tapi sangat mahir bernyanyi. Itu semua nyata”, jelasnya.

Ia juga menyinggung realitas sosial yang diangkat dalam film, seperti praktik penjualan tanah yang sudah lama terjadi di Papua. Sebagai anak Papua, Joan mengaku tumbuh dengan melihat kenyataan tersebut.

“Kita tidak bisa mengendalikan hal-hal yang memang jadi hak masyarakat, seperti menjual tanah. Tapi lewat film ini, kami ingin menumbuhkan kesadaran. Karena yang bisa menegur kita sebenarnya adalah diri kita sendiri”, katanya.

Menurut Joan, film ini menjadi media refleksi bagi orang dewasa agar tidak bersikap egois terhadap alam, mengingat alam juga merupakan hak generasi mendatang.

“Kalau hari ini satu pohon rubuh, lalu besok rubuh lagi, nanti cucu kita mau dapat apa? Alam ini juga milik generasi selanjutnya “, ujarnya.

Dari sisi kreatif, Joan yang juga dikenal sebagai penyanyi dan penulis lagu mengungkapkan bahwa film ini memuat sembilan lagu, yang seluruhnya terinspirasi dari alam Papua.

Nada dan bunyi lagu didapat dari pengalaman langsung selama riset, mulai dari suara burung di pedalaman hingga bunyi ombak, pasir, dan karang di laut Kaimana.

“Ada lagu yang nadanya terinspirasi dari suara burung di pedalaman, ada juga yang datang dari bunyi ombak saat saya menyelam. Semua itu alami, datang dari alam dan masa kecil saya”, tuturnya.

Ia juga menyoroti proses pendalaman akting para pemain yang sebagian besar bukan aktor profesional. Para pemeran, termasuk pemeran utama Maira, dilatih secara intensif oleh pelatih akting selama berbulan-bulan untuk merasakan emosi dan karakter secara mendalam.

“Mereka tidak langsung akting, tapi dilatih untuk merasakan dulu. Makanya aktingnya terasa sangat dalam”, kata Joan.

Melalui film ini, Joan berharap pesan tentang hubungan manusia dan alam Papua dapat sampai ke hati penonton.

“Lewat kepolosan anak-anak, musik, dan cerita di film ini, kami ingin orang dewasa ditegur dengan cara yang lembut, supaya kita sadar dan tidak egois terhadap alam”, pungkasnya. (*)

Penulis : Rian Lahindah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!