
Manokwari, TopbNews.com – Gala premier film Teman Tegar, Maira: Whisper from Papua mendapat sambutan hangat dari para penonton. Film sekuel ini mengisahkan perjalanan Tegar, seorang anak disabilitas yang tidak memiliki kedua tangan dan satu kaki, dalam petualangannya menjelajahi Papua untuk belajar sekaligus melihat keindahan burung Cendrawasih.
Tegar diperankan oleh Muhammad Aldifi Tegarajasa (14), melakukan perjalanan bersama Isy, asisten rumah tangga, menuju kampung halaman Isy di Papua. Selama perjalanan, Tegar tidak hanya menikmati liburan, tetapi juga mempelajari banyak hal baru, termasuk nilai kebersamaan, kepedulian lintas budaya, serta kehidupan masyarakat adat Papua.
Cerita berkembang ketika Tegar dan Isy bertemu Maira, seorang perempuan masyarakat adat yang tinggal di kampung dekat rumah Isy. Kampung tersebut merupakan habitat burung Cendrawasih sekaligus wilayah hutan adat. Konflik muncul saat perusahaan pembalakan hutan masuk ke wilayah mereka, memicu perlawanan dari masyarakat adat. Maira bersama Tegar dan Isy berupaya mempertahankan hutan yang menjadi sumber kehidupan, meski sempat dicurigai memiliki kepentingan dengan pihak perusahaan.
Tokoh Maira digambarkan sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan kelestarian hutan. Pesan kuat juga disampaikan melalui wasiat sang nenek kepada Maira sebelum meninggal dunia, agar menjaga hutan karena hutan merupakan penyangga keseimbangan hidup masyarakat adat Papua.
Selama pemutaran gala premier, penonton terlihat antusias mengikuti alur cerita. Film ini menghadirkan perpaduan kisah emosional, pesan sosial, serta kelucuan dari para pemain yang menghibur, sekaligus menyampaikan nilai edukatif tentang kepedulian lingkungan dan perlindungan anak.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manokwari, Immanuel Pangaribuan, menyampaikan film membawa pesan penting tentang kepedulian terhadap Papua dan hutan adat.

“Film Teman Tegar, Maira: Whisper from Papua ini menggambarkan kepedulian lintas budaya, bagaimana Tegar yang berasal dari Bandung menunjukkan kepedulian terhadap Papua, khususnya dalam menjaga hutan. Film ini membisikkan kepada kita semua, sebagai individu dan sebagai bangsa, untuk peduli terhadap Papua,” ujarnya.
Ia menambahkan, film yang mengambil lokasi syuting di Kaimana, Papua Barat, juga memiliki potensi besar dalam mendukung promosi pariwisata daerah.
“Kita harapkan ke depan ada production house yang mengambil lokasi syuting di Manokwari. Banyak objek wisata di Manokwari yang bisa menjadi lokasi film, baik di wilayah kota maupun di pinggiran kota. Ini bisa menjadi inspirasi untuk promosi pariwisata,” katanya.
Melalui film ini, pesan tentang pelestarian alam, penghormatan terhadap masyarakat adat, serta pentingnya peran orang dewasa dalam melindungi dan mendidik anak-anak disampaikan kepada penonton dalam balutan cerita yang ringan dan menghibur. (TOP-04)