Penjual Sayur Pasar Sanggeng Harap Segera Tempati Los Pasar Sentral

Manokwari, TopbNews.com – Hendrica Kaisyeipo (57), seorang mama penjual sayur di Pasar Sanggeng, Manokwari, telah berpuluh-puluh tahun menggantungkan hidup dari aktivitas berdagang di pasar tersebut. Hendrica berdomisili di wilayah Pantura, Distrik Manokwari Utara dan harus menempuh perjalanan sekitar dua jam setiap hari agar bisa sampai ke Pasar Sanggeng.

Hendrica menuturkan dirinya memiliki lima orang anak yang kini seluruhnya telah berkeluarga. Ia mengaku mulai berjualan di Pasar Sanggeng sejak anaknya masih kecil hingga sekarang.

Untuk menuju pasar, Hendrica setiap pagi menggunakan jasa angkutan kota (taksi/angkot). Biaya yang dikeluarkan sebesar Rp25 ribu jika tidak membawa barang dagangan, dan Rp50 ribu jika membawa barang, khusus untuk perjalanan pergi. Sementara biaya untuk pulang ditanggung kembali secara terpisah.

“Kalau jualan ini tergantung musim panen. Kalau sayur panen, kita jual sayur. Kalau rica panen, kita jual rica. Biasanya juga kita jual ikan, tapi sekarang ini lagi gelombang dan musim hujan jadi belum ada ikan, jadi sementara kita jual sayur dulu,” ujarnya.

Terkait rencana pemindahan pedagang ke Pasar Sentral Sanggeng, Hendrica menyampaikan hingga Selasa (23/12/2025), para pedagang belum menempati bagian dalam pasar karena belum menerima instruksi resmi.

“Kemarin Pak Wakil Bupati datang hanya kasih informasi saja. Kami kira Desember ini sudah bisa masuk, tapi ternyata belum bisa,” katanya.

Ia menjelaskan peresmian Pasar Sentral Sanggeng dijadwalkan berlangsung 5 Februari 2026 oleh Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Injil Masuk di Manokwari. Setelah peresmian tersebut, para pedagang baru akan menempati lapak di dalam pasar.

Menurut Hendrica, pedagang yang menempati pasar bagian dalam nanti akan dikenakan retribusi sebesar Rp150 ribu per bulan yang masuk sebagai pendapatan daerah. Ia juga menyebut pembagian tempat jualan sudah diatur berdasarkan pendataan sebelumnya, sehingga tidak terjadi perebutan lapak antar pedagang.

“Nama-nama sudah dibagi karena dulu sudah didata, jadi tidak berebut tempat lagi,” jelasnya.

Hendrica berharap proses pemindahan ke dalam pasar dapat segera dilakukan. Ia menilai kondisi berjualan di luar pasar saat ini masih serba terbatas.

“Kalau di luar begini, kita melantai, jualan dan duduk alas pakai karung. Kalau di dalam kan sudah ada tempat yang bagus, tidak kehujanan lagi, dan jualan juga tidak kotor karena becek,” pungkasnya.

Para pedagang Pasar Sanggeng kini masih menunggu kepastian jadwal resmi untuk menempati Pasar Sentral Sanggeng, sambil tetap menjalankan aktivitas jual beli di area luar pasar demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. (Top-04)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!