Kampung Mansinam Dinilai Layak Jadi Desa Wisata Religi dan Budaya Unggulan Papua Barat

Manokwari, TopbNews.com – Kampung Mansinam kembali menjadi pusat perhatian dunia wisata religi dan budaya.

Pada, 21 Maret 2025, sebanyak 102 wisatawan mancanegara asal Australia dan Inggris tiba di Pulau Mansinam menggunalan kapal pesiar MV Coral Geographer. Ini merupakan kunjungan keempat sepanjang tahun 2025 yang difasilitasi oleh kolaborasi antara Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Papua Barat dan Signature Papua.

Setibanya di Pelabuhan Manokwari, para tamu disambut hangat dengan rangkaian pertunjukan budaya dari suku besar Arfak dan Biak-Doreri yang digelar di Pulau Lemon. Tarian-tarian sakral ini menggambarkan identitas kultural masyarakat Papua dan menjadi momen yang sangat diapresiasi para wisatawan, terbukti dari antusiasme dan interaksi hangat mereka selama pertunjukan berlangsung.

Selanjutnya, rombongan diajak mengunjungi dua destinasi spiritual utama di Pulau Mansinam: Museum Sejarah Pekabaran Injil, yang menjadi saksi awal masuknya Injil di Tanah Papua tahun 1855, dan Situs Patung Kristus Raja, ikon religi yang menjulang megah dan menjadi landmark rohani masyarakat Kristen di Papua.

Akademisi dan Praktisi Pariwisata, Yansen Saragih, dari Universitas Papua, yang juga menjabat sebagai Ketua Desa Wisata Nusantara Kabupaten Manokwari menyampaikan, momen kunjungan ini menjadi pengingat kuat akan potensi luar biasa Kampung Mansinam sebagai destinasi wisata berbasis religi dan budaya.

“Saya melihat potensi Kampung Mansinam ini tidak biasa. Ia tidak hanya punya nilai spiritual tinggi bagi masyarakat Papua, tetapi juga menyimpan kekuatan budaya dan sejarah yang sangat khas dan otentik. Ini bisa menjadi keunggulan kompetitif dalam pengembangan desa wisata nasional bahkan internasional”, ungkap Yansen.

Lebih lanjut, ia menekankan tiga faktor utama yang menjadikan Mansinam sangat layak diunggulkan, yakni; aksesibilitasnya yang sangat dekat dari pusat Kota Manokwari, beragamnya atraksi wisata yang dimiliki, serta ketersediaan amenitas dasar yang sudah cukup memadai untuk wisatawan.

“Bayangkan saja, hanya dalam hitungan menit dari pusat kota, wisatawan bisa menyelami sejarah awal kekristenan di Tanah Papua, merasakan atmosfer religius yang kuat, dan menyaksikan langsung kehidupan masyarakat lokal yang bersahaja namun penuh nilai budaya”, jelasnya.

Yansen juga menekankan pentingnya dukungan kebijakan dari pemerintah daerah untuk menjadikan Kampung Mansinam sebagai Desa Wisata Unggulan Provinsi Papua Barat.

“Butuh komitmen lintas sektor, terutama untuk membangun infrastruktur pendukung, mengembangkan narasi digital, dan memperkuat peran masyarakat lokal sebagai pelaku utama dalam sistem community-based tourism”, katanya.

Kunjungan kapal pesiar seperti ini tidak hanya menjadi ajang promosi wisata semata, melainkan juga menjadi bukti bahwa Mansinam memiliki daya tarik spiritual, budaya, dan historis yang kuat. Dalam konteks pariwisata berkelanjutan, destinasi seperti Mansinam sangat strategis karena mampu menyatukan nilai-nilai edukasi, kontemplasi spiritual, dan ekonomi kreatif lokal dalam satu paket pengalaman wisata yang utuh.

Dengan tren wisata minat khusus yang terus tumbuh di kalangan wisatawan global, khususnya wisata religi dan heritage, Kampung Mansinam memiliki peluang besar untuk tampil sebagai ikon wisata unggulan Papua Barat di panggung dunia. (*/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!