Sesalkan Tindakan Polresta Manokwari, Ketua LMA PB : Parang dan Panah Itu Tradisi Kami

Suasana aksi blokade jalan di daerah maruni oleh keluarga korban, Selasa 8/8/2023 (Foto : Istimewa/TopbNews.com)

mostbet

Manokwari, TopbNews.com – Ketua LMA Provinsi Papua Barat, Maurits Saiba angkat bicara terkait aksi blokade yang dilakukan masyarakat suku arfak di perempatan jalan maruni, Manokwari Senin (7/8).

Menurutnya, aksi ini disebabkan kekecewaan keluarga korban karena tidak adanya pembayaran ganti rugi kendaraan yang dibakar para pelaku.

“Aksi ini kan pasti ada sebab akibatnya. Keluarga korban penjabretan dan penganiayaan disekitar kantor pengadilan negeri menutup jalan karena kendaraan yang dibakar oleh saudara kita yang dikompleks sanggeng dalam, belum menyelesaikan ganti rugi kepada pihak korban,” Ujarnya, selasa (8/8).

Maurits menyesalkan tindakan pembubaran dan pelepasan penembakan gas air mata yang dilakukan aparat Polresta Manokwari yang menyebabkan warga sekitar terkena gas air mata, bahkan terjadi penangkapan salah seorang warga.

“Ini sesungguhnya harus kita perhatikan secara baik tanpa melakukan tindakan yang terkesan kita tidak bertanggung jawab memperhatikan asal permasalahan. Pemalangan kemarin tetap aman dan kondusif meskipun ada ulah warga dengan pegang parang dan panah, itu tradisi kami suku arfak,” Kata Maurits.

Menurutnya, hal itu bukan bentuk peperangan dan perlawanan. Namun untuk menunjukkan suatu kekuatan supaya ada perhatian dan sebuah tindakan penyelesaian.

“Jadi bukan peperangan atau penyerangan ini harus dibedakan dan pahami secara baik oleh warga,” Tegasnya.

Ketua LMA Provinsi Papua Barat, Maurits Saiba (Foto : Istimewa/TopbNews.com)

“Tradisi orang arfak sudah ada sejak dulu kala. Meskipun ada adat yang secara statis yang masih dipertahankan. Namun ada juga yang telah ditinggalkan untuk kemajuan pembangunan di daerah. Oleh karena itu jangan ada beda pendapat dari tradisi kami. Karena Ada adat dulu, agama baru pemerintah. Inilah Motto kami LMA Papua Barat,” Jelasnya.

Maurits yang juga Anggota DPR Papua Barat dari Fraksi Otonomi Khusus ini berharap, masalah ini cepat diselesaikan secara adat dan harus dipertimbangkan secara hukum positifnya.

“Dipikirkan penyelesaiannya dan diberikan keringanan kepada kedua tersangka yang melakukan pemotongan terhadap 2 aparat kepolisian,” Tutupnya.

Penulis : Tesan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!