
Manokwari, TopbNews.com – Roma Megawanty Waterpauw, Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPR RI Dapil Provinsi Papua Barat dari Partai GOLKAR, mengajak seluruh elemen warga Muhammadiyah dan keluarga besar Aisyiyah Provinsi Papua Barat untuk bersama mencegah dan menangani stunting.
Dijelaskannya, definisi Stunting dalam Perpres 72 tahun 2021 bahwa Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Kondisi tersebut ditandai dengan tinggi badan anak berada dibawah standar yang ditetapkan oleh Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.
“Stunting itu kondisi dimana seseorang kekurangan gizi kronis (dalam jangka waktu yang lama). Terutama pada Seribu Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK). Dimana ibu hamil (270 hari) sampai anak usia 2 tahun (730 hari), sehingga tinggi badan anak dibanding usianya terlihat lebih pendek dari sebayanya,” papar Roma Megawanty saat memberikan materi pada Rapat Kerja dan Penguatan Ideopolitor (Ideologi Politik dan Organisasi) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan Aisyiyah Papua Barat, Sabtu (13/1) di Manokwari.
Menurut Roma Megawanty, faktor penyebab stunting adalah pengaruh nutrisi, kasih sayang dan stimulasi pada jumlah sel dan percabangan sel-sel otak.

“Dampak nyata stunting adalah otak anak stunting tidak terbentuk baik dan dapat berdampak panjang,” katanya.
Stunting, aku Roma jika diukur menggunakan parameter tinggi badan menurut umur maka stunting adalah tinggi badan menurut umur <-2 SD di bawah kurva pertumbuhan normal WHO. Kemudian berdasarkan kurva pertumbuhan normal WHO merupakan single reference (referensi tunggal) bagi semua anak di dunia serta bila mendapatkan asupan gizi dan lingkungan yang kuat, maka setiap anak di dunia memiliki pertumbuhan linear yang sama.
“Pertumbuhan linear merupakan penanda kuat tumbuh kembang pada balita,” sebut Roma.
Lebih lanjut dijelaskan dampak Stunting bisa dilihat dari produktivitas rendah, gangguan kesehatan, kemampuan bersaing rendah atau produktivitas rendah dan kemampuan motorik rendah, serta anak menjadi mudah sakit.
Roma berharap, proses pencegahan dapat dilakukan melalui tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak. Pencegahan dimulai pada saat kehamilan dan pertumbuhan janin, maka dibutuhkan gizi mikro dan protein serta kalori. Selanjutnya, pada tahapan pertumbuhan Bayi dan anak dibutuhkan seluruh zat gizi (makro dan mikro) secara seimbang.

“Ini diperoleh dari menyusui eksklusif sampai 6 bulan dan diteruskan dengan ASI dan MP-ASI hingga usia 2 tahun,” jelas Roma.
Ditambahkan Roma, selama proses kehamilan jika gizi ibu hamil baik, maka janin akan sehat. Sebaliknya, jika ibu hamil sakit, maka fisik janin akan lemah. Dianjurkan, selama masa kehamilan diberikan asupan makanan berbagai lauk pauk, melakukan kontrol kehamilan minimal 4 kali, pemberian tablet Besi minimal 90 butir, serta mengikuti kelas ibu hamil di posyandu terdekat.
“Bayi 6 bulan sampai 2 tahun wajib diberikan makanan ASI + MP ASI. Berikan juga kapsul vitamin A setahun 2 kali dan berikan imunisasi lengkap. Pencegahan stunting jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan stunting,” tegas Roma.
Materi yang disampaikan mendapat apresiasi luar biasa dari para hadirin. Salah satu anggota Aisyiyah mengungkapkan bahwa ia memperoleh pemahaman yang lebih tentang stunting dan penyebabnya.
“Materi yang disampaikan ibu Roma tadi sangat jelas untuk saya pribadi. Banyak informasi yang saya dapatkan dari persoalan stunting ini dan tentu saja ini ilmu yang penting bagi kami kaum ibu”, ucap seorang anggota Aisyiyah. (*)
Penulis : Tesan