
Manokwari, TopbNews.com – Universitas Caritas Indonesia resmi menutup rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun Akademik 2025–2026 di Manokwari, Sabtu (16/8). Acara penutupan dihadiri oleh Rektor, jajaran pimpinan kampus, dosen, staf, serta mahasiswa baru dari berbagai program studi.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Caritas Indonesia, Prof. DR. Roberth K.R. Hammar menegaskan bahwa kehadiran seluruh mahasiswa baru dalam PKKMB menjadi tanda sah bahwa mereka kini resmi menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Caritas Indonesia.
Momentum penutupan ini juga bertepatan dengan peringatan 80 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, yang jatuh pada 17 Agustus 2025 besok.
Prof. Hammar mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya dirayakan dengan kegembiraan, tetapi juga perlu disertai refleksi kritis terhadap kondisi bangsa.
“Kita harus bersyukur bangsa ini sudah merdeka, namun di sisi lain kita juga prihatin melihat banyak tantangan pembangunan, terutama di bidang pendidikan dan kesejahteraan. Kemerdekaan yang sejati adalah ketika bangsa ini benar-benar bersatu, berdaulat, adil, dan makmur”, ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti masih tingginya angka putus sekolah, khususnya di Papua, serta pentingnya peningkatan kompetensi lulusan perguruan tinggi.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademis, tetapi juga soft skill seperti kepemimpinan, komunikasi, dan kemampuan membangun jejaring.
Prof. Hammar menekankan bahwa Universitas Caritas Indonesia akan terus mengembangkan program pendidikan yang menyeimbangkan teori dan praktek, termasuk pemanfaatan teknologi digital seperti perkuliahan daring melalui Google Meet. Hal ini diharapkan dapat membantu mahasiswa menghadapi era digital dan tantangan global.
Selain itu, ia menyinggung rencana pengembangan kampus baru di kawasan Pasir Putih, dengan penambahan program studi di bidang komunikasi politik, pendidikan, hingga musik.
Pada akhir sambutan, Rektor berpesan kepada seluruh mahasiswa agar menempuh pendidikan dengan semangat kebangsaan dan integritas.
“Mengisi kemerdekaan tidak hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan kebajikan. Gunakan pengetahuan yang kalian miliki untuk membangun, bukan untuk menyesatkan. Kita belajar bukan hanya untuk pintar, tetapi juga untuk membawa kebaikan bagi sesama dan menjaga keseimbangan dengan Tuhan, manusia, dan alam”, pungkasnya. (*)
Penulis : Rian Lahindah