
Manokwari, TopbNews.com – Siang hari di Jalan Yos Sudarso Manokwari. Udara hari ini cukup bersahabat. Di depan Manokwari City Mall. Seperti hari-hari biasa, jalanan di depan salah satu pusat perbelanjaan modern di Manokwari itu dipenuhi lalu lalang kendaraan. Saling berkejaran seolah ingin tiba ke tujuan lebih dulu.
Di salah satu sudut mall, sejumlah motor terparkir rapi. Beberapa helm diletakkan di atas tempat duduk motor. Nasirullah, pria paruh baya berdiri di antara deretan motor yang terparkir. Sesekali dia berbalik melihat pengunjung keluar dari pintu mall.
“Ojek..,” seru dia menawarkan diri.
Tidak semua tawaran yang dilontarkan direspon oleh calon penumpang. Tapi itu tidak membuat dia kecewa. Terus berusaha menawarkan jasa kepada setiap orang yang melintas.
Nasirallah satu di antar sekian pejasa ojek yang biasa mangkal di Depan Hadi. Profesi ini sudah dia lakukan dalam beberapa tahun terakhir. Meski pendapatan yang diperoleh tidak menentu, namun dia tetap tekun menjalani pekerjaannya. “Tiap hari di sini (di Depan Hadi Mall-red). Dari pagi sampai malam,” ujarnya.

Selain cuaca yang kerap tidak menentu, kehadiran ojek online turut menggerus pendapatan dia akhir-akhir ini. Mereka harus bersaing dengan para pejasa ojek yang mengandalkan aplikasi. Menurutnya, banyak pelanggan yang lebih memilih menggunakan jasa ojek online karena lebih mudah.
“Mudah dan praktis. Kita main sulit dapat penumpang,” tambahnya.
“Kita yang ojek biasa sekarang setengah mati mau dapat penumpang. Pendapatan juga menurun,” keluh dia saat ditemui TopbNews.com dipangkalannya.
Tak ada pilihan lain. Bagi Nasirullah, menyerah berarti dia dan keluarganya turut berdampak. Sebab dari hasil bekerja sebagai pejasa ojek, dia bisa menghidupi keluaga. Termasuk membayar sewa motor yang sehari-hari dia pakai. “Satu minggu sekali kasih uang setoran ke yang punya motor,” kata Nasirullah.
Pria paruh baya ini mengaku masih bertahan dan tidak beralilh ke pejasa ojek online karena menurutnya ada beberapa tambahan biaya administrasi dan perlengkapan yang harus dia penuhi. “Kalau ojek begini, paling-paling perlu motor sama helm saja. Ojek online itu kan perlu biaya. Perlu administrasi macam-macam,” jelasnya.
Modernisasi apapun bentuknya, selalu menyisahkan dampak terhadap perubahan sosial. Pilihannya, mengikuti arus perubahan atau bertahan dengan kondisi yang ada. Nasirullah, memilih pilihan kedua sembari berharap, dia dan teman-teman seprofesi tetap mendapat tempat di hati warga Manokwari. (TOP-03)