Korban Utama KDRT adalah Anak

Aktivis Perempuan dan Anak, Yuliana Numberi. (Foto: Tesan/TopbNews)

Manokwari, TopbNews – Perceraian dan konflik antara suami dan istri di dalam satu keluarga, terkadang membuat anak-anak menjadi korban. Tidak hanya menyebakan trauma, kondisi ini juga bisa membuat anak telantar.

Menurut Aktivis Perempuan dan Anak, Yuliana Numberi, berkaca pada sejumlah kasus yang dia tangani, anak selalu menjadi korban dari persoalan keluarga (suami dan istri – red). “Dimana-mana, anak menjadi korban berlapis. Mereka bahkan mengalami trauma,” kata Yuliana kepada TopbNews.com baru-baru ini.

Yuliana mengatakan, salah satu upaya mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) baik yang dilakukan istri maupun suami, adalah persiapan pra nikah. Setiap perempuan atapun lelaki yang akan menikah, harus bisa belajar untuk mengendalikan sikap ketika mereka berumah tangga. “Apapun masalahnya, semua harus diselesaikan dengan kepala dingin. Karena yang korban adalah anak-anak,” tandas Yuliana.

Direktris YMP2, Anike Sabami (foto : Tesan/Topbnews.com)

Di tempat terpisah, Direktris Yayasan Mitra Perempuan Papua, Ani Sabami mengakui jika anak rentan menjadi korban akibat perselisihan di dalam rumah.

Terkait kasus yang baru-baru ini terjadi, dimana suami dan istri ditahan karena terlibat kasus KDRT, Sabami mengatakan harus ada mediasi untuk penyelesaian masalah. Kedua belah pihak dipanggil dan didudukkan bersama. Sebab harus disadari, pada kasus ini, korban terbesar adalah anak-anak. “Kedua belah pihak dipanggil meski proses hukum sedang berjalan. Anak-anak harus diselamatkan,” kata Sabami.

Di keluarga, kata Sabami, orang tua harus memberi contoh karakter yang baik. Menurut dia, jika karakter dan perilaku orang tua tidak baik, maka mental anak juga akan terganggu. (*)

Penulis: Tesan/ Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!