
Manokwari, TopbNews.com – Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi faktor penentu dalam mewujudkan pemilu yang jujur, adil, dan bermartabat.
Hal tersebut ditegaskan oleh Hendri Casandra Gultom, perwakilan dari Sindikasi Pemilu dan Demokrasi, dalam forum diskusi penguatan kelembagaan Evaluasi penyelenggaraan pemilu dan pemilihan tahun 2024 di Provinsi Papua Barat, Hari ke-II, Senin (22/9).
Menurut Hendri, pemahaman pemilu yang baik tidak bisa terlepas dari kompetensi para pengawas, penyelenggara, maupun partisipan demokrasi lainnya. Karena itu, penguatan kelembagaan Bawaslu harus dimulai dari pembangunan SDM yang mumpuni.
“Kalau SDM kita kompeten, otomatis pemahaman terhadap pemilu juga meningkat. Dari situlah kualitas demokrasi bisa terjaga”, ujarnya.
Ia menekankan pentingnya standarisasi kurikulum pelatihan nasional bagi pengawas pemilu, yang mencakup hukum pemilu, manajemen konflik, investigasi digital, serta etika pengawasan. Selain itu, Hendri mendorong adanya database SDM pengawas untuk menjaga kesinambungan pengalaman dari periode ke periode.

“Selama ini kita kehilangan memori kelembagaan karena SDM berganti setiap periode. Padahal, pengalaman adalah modal berharga”, tambahnya.
Lebih jauh, ia menilai sertifikasi kompetensi pengawas melalui lembaga profesional juga mendesak dilakukan. Sertifikasi tersebut akan memastikan standar keahlian yang sama antara pengawas di pusat maupun daerah, sekaligus menjawab disparitas kualitas pengawasan di berbagai wilayah.
Selain pengawas, masyarakat juga disebut memiliki peran penting. Hendri mendorong penyusunan modul edukasi pengawasan partisipatif yang sederhana dan mudah dipahami, agar publik dapat terlibat aktif dalam mengawal jalannya pemilu.
“Kompetensi melahirkan pemahaman, dan pemahaman yang baik akan melahirkan partisipasi yang berkualitas. Itulah rumus sederhana yang harus kita pegang”, jelasnya.
Hendri menegaskan, keberhasilan pemilu hanya bisa dicapai jika seluruh aktor demokrasi, mulai dari penyelenggara, partai politik, aparat penegak hukum, hingga masyarakat dapat memainkan perannya secara kompeten.
“Semakin berkompeten, semakin tinggi kualitas demokrasi yang kita bangun bersama”, pungkasnya. (*)
Penulis : Marthina Marisan