
Manokwari, TopbNews.com — Jelang Hari Ulang Tahun Pekabaran Injil (HUT PI) ke-171, tanggal 5 Februari 2026, aktivitas pembersihan Pulau Mansinam mulai digencarkan para pemuda dan masyarakat. Kegiatan dilakukan sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan serta kelestarian situs-situs bersejarah di Pulau Mansinam, Manokwari, Papua Barat.
Kepala Kampung Mansinam, Welly Rumsayor, menyampaikan pembersihan melibatkan pemuda kampung yang telah diarahkan bekerja di lapangan. Menurutnya, kegiatan tidak hanya bersifat seremonial menjelang HUT PI, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab bersama dalam merawat Pulau Mansinam sebagai Pulau Peradaban bagi Tanah Papua.
Ia menegaskan Pulau Mansinam memiliki nilai sejarah dan religius yang sangat penting, sehingga pemeliharaan kebersihan dan kelestarian situs perlu dilakukan secara berkelanjutan dan mendapat perhatian serius dari berbagai pihak.
“Kami dari masyarakat Kampung Mansinam berharap supaya dari Klasis, Sinode, Pemerintah Kabupaten, dan Gubernur bisa memperhatikan serta mendukung pemeliharaan Pulau Mansinam agar tetap bersih,” ujar Welly Rumsayor saat ditemui, (30/1)
Lebih lanjut, Welly menjelaskan selama ini masyarakat kampung tetap berupaya menjaga lingkungan dan situs-situs bersejarah yang ada di Pulau Mansinam. Namun, perawatan yang dilakukan masih terbatas, terutama pada area permukiman dan bagian bawah pulau. Sementara itu, pengelolaan kawasan situs berada di bawah badan pengelola yang telah dibentuk.
Ia menyebut keterbatasan sarana dan pendanaan menjadi kendala utama dalam pemeliharaan situs. Peralatan seperti mesin babat, bahan bakar, dan perlengkapan kebersihan sangat dibutuhkan agar kegiatan pembersihan dapat berjalan optimal.
“Masyarakat tetap menjaga situs-situs di Mansinam, namun pemeliharaan membutuhkan dukungan seperti bensin, mesin babat, dan perlengkapan kebersihan. Kalau ada, mereka kerja, kalau tidak ada, ya berhenti,” katanya.
Menurut Welly, pada beberapa waktu sebelumnya, pemeliharaan situs dilakukan secara swadaya oleh sejumlah warga dengan memanfaatkan sumbangan sukarela dari para pengunjung. Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli kebutuhan operasional pembersihan. Namun, cara ini dinilai belum cukup untuk menjamin pemeliharaan yang rutin dan menyeluruh.
Ia juga mengungkap dukungan dari luar daerah dan pihak lain memang pernah ada, namun belum berkesinambungan. Karena itu, ia berharap ke depan terdapat kerja sama yang lebih terstruktur antara pemerintah daerah, gereja, dan badan pengelola agar perawatan situs-situs bersejarah di Pulau Mansinam dapat dilakukan secara maksimal.
Kepala Kampung Mansinam menilai, pemeliharaan Pulau Mansinam bukan hanya menjadi tanggung jawab masyarakat setempat, melainkan tanggung jawab bersama seluruh pihak, mengingat nilai sejarah Pulau Mansinam bagi seluruh masyarakat Tanah Papua.
Pulau Mansinam selama ini dikenal sebagai pusat peringatan Hari Pekabaran Injil dan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan religi di Papua Barat yang perlu dijaga kelestariannya. (TOP-03/04)