HUT Pekabaran Injil ke-89 di Bumi A3: Momentum Refleksi, Pertobatan, dan Rekonsiliasi

Manokwari, TopbNews.com – Peringatan Hari Ulang Tahun Pekabaran Injil (HUT PI) ke-89 yang akan diperingati pada 17 Januari 2025 di Kabupaten Maybrat Papua Barat Daya, menjadi momentum penting untuk refleksi iman, sejarah, dan arah masa depan orang Papua, khususnya masyarakat A3 (Aitinyo–Ayamaru–Aifat).

Hal tersebut disampaikan oleh Tokoh Intelektual Maybrat, Dance Sangkek, dalam wawancara terkait makna peringatan HUT Pekabaran Injil di Bumi A3, Selasa (13/1/2026).

Menurutnya, perayaan ini bukan sekadar seremoni keagamaan, tetapi sebuah ajakan untuk kembali menempatkan Injil sebagai pusat transformasi hidup dan peradaban orang Papua.

“Injil telah hadir dan bekerja nyata di Maybrat. Perubahan karakter masyarakat, peningkatan pendidikan, dan kemajuan sosial yang kita rasakan hari ini adalah bukti bahwa Injil membawa berkat yang nyata dan berkelanjutan”, ujar Dance Sangkek.

Mantan Pj Sekda Provinsi Papua Barat ini menegaskan bahwa generasi hari ini dan generasi yang akan datang masih hidup dalam janji berkat tersebut. Namun demikian, peringatan HUT PI juga harus menjadi ruang kritik dan refleksi terhadap realitas saat ini, dimana aktivitas keagamaan dan pembangunan gereja terkadang dilakukan bukan karena panggilan iman, melainkan didorong oleh egoisme, pencitraan, atau kepentingan jabatan.

“Membangun gereja dan mendukung pelayanan seharusnya lahir dari hati yang bertobat dan bersyukur atas berkat Tuhan, bukan sekadar untuk menunjukkan kekuasaan atau posisi”, tegasnya.

Dance Sangkek berharap HUT PI ke-89 di Bumi A3, menjadi momentum pertobatan kolektif baik bagi para pemimpin, gereja, maupun masyarakat agar pelayanan yang dilakukan tidak berhenti pada aspek jasmani, tetapi sungguh-sungguh menjadi persembahan iman yang berkenan kepada Tuhan.

Menurutnya, Injil harus kembali ditempatkan sebagai alat pembebasan, rekonsiliasi, dan pemulihan relasi antar sesama. Ia juga menekankan bahwa sejarah awal pemerintahan, pendidikan, dan masuknya Injil di Papua merupakan satu rangkaian sejarah yang tidak terpisahkan.

“Tidak boleh ada klaim sepihak, pemisahan sejarah, atau narasi ‘kami dan mereka’. Baik Protestan maupun Katolik adalah saudara seiman yang masuk melalui jalur sejarah yang berbeda, tetapi dengan tujuan yang sama”, ungkapnya.

Momentum HUT PI ke-89, lanjut Dance Sangkek, harus menjadi ajakan bagi seluruh elemen masyarakat Maybrat untuk bersatu dalam satu hati dan satu pikiran, serta mengakui bahwa kemajuan yang dinikmati saat ini merupakan hasil perjuangan dan pengorbanan generasi terdahulu.

“Refleksi ini penting agar setiap kompetisi, pembangunan, dan jabatan yang diraih tidak menjadi alat egoisme, melainkan sarana pelayanan yang memuliakan Tuhan dan membawa manfaat bagi banyak orang”, katanya.

Dengan semangat syukur, pertobatan, dan rekonsiliasi, peringatan HUT Pekabaran Injil ke-89 di Maybrat diharapkan menjadi tonggak rohani untuk melangkah ke masa depan yang lebih dewasa, beradab, dan berpusat pada Injil sebagai dasar kehidupan orang Papua. (*)

Penulis : Rian Lahindah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!