Dua Tahun Pasca Longsor, Warga Kampung Mitiede Pegaf Masih Menunggu Kepedulian Pemerintah

Manokwari, TopbNews.com – Warga Kampung Mitiede, Kabupaten Pegunungan Arfak hingga kini masih hidup dalam kondisi memprihatinkan setelah bencana longsor yang terjadi hampir dua tahun lalu.

mostbet

Bencana tersebut menelan korban jiwa dan menghancurkan permukiman warga, namun hingga saat ini belum ada penanganan konkret dari pemerintah.

Perwakilan keluarga korban, Laban Ayok, mengungkapkan bahwa longsor yang terjadi telah merenggut empat nyawa, terdiri dari dua orang dewasa dan dua anak-anak, serta menimbun sembilan unit rumah milik warga.

Sejak kejadian itu, sebagian besar warga terpaksa hidup berpindah-pindah dan menumpang di rumah kerabat karena tidak memiliki tempat tinggal tetap.

“Sudah hampir dua tahun kami hidup menumpang. Pemerintah dari kabupaten, provinsi hingga pusat sudah datang ambil data, bahkan bermalam di lokasi, tapi sampai hari ini tidak ada bantuan nyata”, ujar Laban dengan nada kecewa.

Ia menegaskan bahwa warga Kampung Mitiede bukan pendatang, melainkan penduduk asli yang telah tinggal secara turun-temurun di wilayah tersebut.

Oleh karena itu, mereka berharap pemerintah membuka mata dan hati untuk memberikan perhatian serius terhadap nasib masyarakat yang terdampak bencana.

Ironisnya, kata Laban, warga justru harus berinisiatif sendiri menyewa alat berat untuk meratakan tanah longsoran agar bisa membangun pondok darurat. Semua biaya ditanggung oleh para korban karena bantuan pemerintah tak kunjung datang.

“Kami terpaksa patungan sewa alat berat supaya bisa bikin tempat tinggal sementara. Kalau tunggu pemerintah, kami tidak tahu harus tinggal di mana”, tambahnya.

Selain rumah, warga juga mengeluhkan akses jalan utama yang menghubungkan wilayah Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Pegunungan Arfak serta daerah lain, termasuk jalur provinsi, yang hingga kini rusak dan belum diperbaiki.

Warga Kampung Mitiede berharap BPBD Provinsi Papua Barat dan pemerintah daerah segera turun tangan, melakukan pembersihan lokasi longsor, meratakan lahan, memperbaiki akses jalan, serta menyediakan hunian layak bagi para korban.

“Kami ini warga negara Indonesia, bukan orang asing. Kami ikut memilih pemimpin. Kami hanya minta hak kami sebagai masyarakat yang terdampak bencana”, tegas Laban.

Hingga berita ini diturunkan, warga masih bertahan dengan kondisi serba terbatas dan menunggu adanya respon nyata dari pemerintah untuk memulihkan kehidupan mereka pasca-bencana. (*)

Penulis : Marthina Marisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!