
Manokwari, TopbNews.com – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat menyampaikan, guna mewujudkan gerakan nasional pengendalian inflasi pangan (GNPIP), BI bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Papua Barat melaksanakan penanaman perdana padi organik berbasis (M -11), di lahan pertanian Kelompok Tani Kampung Udapi Hilir, Distrik Prafi, Kamis (19/10).
Penanaman padi organik berbasis Microbachter (MA-11) tersebut merupakan yang pertama kalinya di Kabupaten Manokwari.
Metode (M-11) sendiri merupakan salah satu metode penanaman padi berbasis organik yang mampu menguraikan bahan organik dengan sangat cepat.
“Gerakan Tanam perdana padi organik Berbasis M-11 ini adalah yang pertama kalinya kami lakukan di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat di lahan ini”, ucap Kepala Perwakilan BI Papua Barat, Rommy S. Tamawiwy.

Rommy mengatakan, tujuan kegiatan pengendalian inflasi pangan adalah terciptanya kemandirian pangan di suatu daerah, sehingga tidak lagi terjadi ketergantungan pangan dari satu daerah ke daerah lain.
“Kegiatan ini kami lakukan dengan tujuan agar Papua Barat khususnya Kabupaten Manokwari bisa memiliki lumbung pangan sendiri sehingga tidak perlu lagi mengimpor pangan dari daerah lain seperti Surabaya, Makasar dan beberapa daerah lainnya”, ujar Rommy.
Rommy menambahkan, BI telah berkomitmen untuk terus mensupport program strategis pemerintah terutama dalam pengendalian inflasi pangan di daerah Kabupaten Manokwari.
Dalam sambutan Bupati Manokwari yang dibacakan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Manokwari, Kukuh Saptoyudo mengapresiasi kinerja dari BI yang melakukan Terobosan Perdana Penanam Padi organik berbasis (M-11), bagi para petani.

“Atas Nama pemerintah Dldaerah kami memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Bank Indonesia karena telah melakukan langkah strategis dalam pengendalian inflasi Pangan di Kabupaten Manokwari”, ucap Kukuh.
Ia menjelaskan, dalam situasi dan kondisi yang penuh tantangan, krisis pangan di berbagai negara menjadi permasalahan serius untuk ditangani bersama, sebagai upaya pencegahan ketersediaan pasokan pangan di daerah bahkan di tingkat nasional.
Menurutnya, permasalahan-permasalahan di sektor pertanian tidak akan bisa diatasi dengan cara konvensional. Melainkan memerlukan inovasi dan kerja sama yang erat untuk mencapai hasil yang diinginkan.
“Solusi-solusi inovatif ini bukan hanya membantu memecahkan masalah, tetapi juga mendorong pertumbuhan dan transformasi positif dalam sektor pertanian kita,“ katanya.
Kukuh menambahkan, pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga membantu para pelaku usaha pertanian dalam mengembangkan keterampilan dan pemahaman yang lebih baik terkait teknik bercocok tanam yang efisien, pengelolaan usaha yang baik, dan penerapan inovasi di bidang pertanian.
Hal ini pun disambut baik oleh para petani, Melalui Ketua Gapoktan Setia Bersama Kampung Udapi Hilir, Distrik Prafi, Indra Setiawan menyampaikan sangat bersyukur dan berterima kasih karena ditengah kesulitan memperoleh pupuk kimia, Bank Indonesia hadir memberikan kemudahan dengan penggunaan pupuk organik sebagai alternatif.

Menurunkan, ini merupakan pertama kalinya dilakukan uji coba penggunaan pupuk organik dilakukan oleh para petani pada luasan lahan 1/4 Hektar.
“Kami sangat bersyukur dan sangat berterima kasih kepada Bank Indonesia Perwakilan Papua Barat karena beberapa tahun terakhir ini, kami sangat kesulitan mendapatkan pupuk kimia, khususnya pupuk bersubsidi, kemudian BI datang memberikan solusi, kita diajari ilmu untuk membuat pupuk organik dengan cara penggunaan yang tepat, di lahan kami kurang lebih 1/4 hektar ini “, ungkap Setiawan.
Diriny berharap, jika percobaan tersebut berhasil maka Gerakan Tanam perdana padi organik (M-11) ini kemudian akan disebarkan ke para petani lainnya di ampung Udapi Hilir terlebih dahulu dan kemudian ke wilayah SP lainnya. (*)
Penulis : Marthina Marisan