
Manokwari, TopbNews.com – Partai Nasional Demokrat (NasDem) secara resmi mengajukan surat keberatan catatan kejadian khusus soal dugaan penggelembungan suara di Distrik Fakfak dan Fakfak Tengah, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat pada saat pleno tingkat distrik.
Dugaan penggelembungan suara atau pergeseran suara itu terjadi pada Partai Politik tertentu yang merugikan Partai NasDem, dimana berpotensi mendapat satu kursi DPR Provinsi Dapil Papua Barat 4.
Saksi Partai NasDem PPD Fakfak Tengah, Eddi Renjaan telah mengajukan keberatan catatan kejadian khusus tersebut ke Bawaslu Papua Barat untuk dapat diselesaikan di Pleno Rekapitulasi Tingkat Provinsi.
Renjaan menyatakan, berdasarkan hasil pencermatan dan penelitian yang telah dilakukan khususnya terkait dengan hasil rekapitulasi suara di Distrik Fakfak Tengah ditemukan ada terjadi kekacauan yang luar biasa berkaitan dengan selisih pergeseran suara di setiap Parpol termasuk Partai Nasdem.
“Di situ kalau partai lain seperti kami mungkin pergeserannya relatif kecil sehingga masih bisa masuk dalam ambang batas toleransi. Tapi ada partai yang penggelembungannya sangat-sangat bombastis sekali, sangat luar biasa sekali,” katanya dalam keterangannya kepada media ini, Kamis (7/3).
Parpol yang diduga terjadi penggelembungan suara kata Renjaan adalah Partai Amanat Nasional (PAN). Dimana berdasarkan hasil rekapitulasi dari C1 hasil, PAN memperoleh 485 suara. Namun saat rekapitulasi di tingkat distrik, total suara PAN melonjak menjadi 1.085 suara.
“Data valid dari C1 pada 41 TPS di Distrik Fakfak Tengah, total suara PAN di 41 TPS itu hanya 485 suara, lalu naik 1.085 suara. Artinya apa? Ada penambahan sebesar 600 suara di PAN. Dan hal itu kalau kita lacak lebih jauh sebenarnya ada terjadi pengurangan-pengurangan suara di pantai-partai lain secara signifikan,” bebernya.
Menurut Renjaan, salah satu Parpol yang mengalami penurunan suara cukup drastis adalah Partai Bulan Bintang (PBB).
“Jadi, kami menduga kuat bahwa ini ada satu grand desain dari PPD untuk menggelembungkan suara partai-partai tertentu karena ada maksud-maksud tertentu pula”, duganya.
Renjaan mengatakan, pihaknya tidak bermaksud menganggap bahwa partai yang bersangkutan mungkin bekerja sama. Tetapi dalam hal ini, pihaknya melihat tidak profesionalnya penyelenggara di tingkat PPD yang melakukan tindakan yang tidak benar.
“Artinya dia menggeser, mengurangi suara di partai-partai lain untuk menambahkan suara itu ke partai tertentu. Ini tujuannya apa? Saya juga kurang tahu. Hal itu kemudian menyebabkan yang bersangkutan yang sebenarnya kalau perhitungan kita dia tidak dapat kursi jadinya sekarang dia dapat kursi. Jadi ini ada semacam desain-desain tertentu yang memang kita curigai kuat bahwa ini sudah menjurus kepada satu transaksi politik yang mencoba berusaha untuk memenangkan orang tertentu yang mungkin saja ada iming-iming dengan jual beli suara dan sebagainya”, ungkapnya.
Selain PAN, Parpol lain yang juga mengalami peningkatan suara yaitu PDI Perjuangan.
“PDI Perjuangan itu suara aslinya sesuai dengan C1 itu adalah sebesar 1.714 suara tetapi kemudian dihasilnya menjadi sekitar 1.769 suara,” sebutnya.
Dsiinggung soal potensi NasDem merebut kursi jika dalam posisi suara normal, Renjaan memastikan peluang itu ada.
“Kalau seandainya suara PDIP dikembalikan ke asal, kemudian PAN dikembalikan ke asal juga maka partai NasDem berpeluang menduduki posisi ke 6. Kalau seandainya suara ini dikembalikan sesuai dengan data hasil C1″, tandasnya. (rls/tesan)