Berbeda Jalan, Satu Tujuan Sejahtera

Refleksi Natal Mananwir Franky Umpain

mostbet
Ketua Harian LMA Papua Barat, Franky Umpain

Perayaan Natal selalu membawa sukacita dan damai sejahtera bagi hidup kita. Begitulah kalimat pembuka pesan Natal bersama dari KWI dan PGI tahun 2022.

Setiap tahun Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yang menjadi organisasi pimpinan umat Katolik (uskup) di Indonesia, dan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), organisasi persekutuan gereja Kristen Protestan Indonesia menerbitkan pesan Natal bersama. Tahun ini, tema yang diangkat adalah, ”…pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain”.

Tema ini berangkat dari cerita orang-orang bijak dari Timur, yang pergi mencari bayi Yesus Kristus dengan bantuan bintang dan menemukan-Nya. Namun, ketika kembali pulang ke negerinya, mereka memilih jalan lain, jalan yang berbeda dengan saat datang, untuk keselamatan bayi suci itu dan mewujudkan rencana penebusan. Jalan lain juga boleh diartikan, setiap manusia setelah bertemu Allah atau utusan-Nya, tak lagi menjalani hidupnya dengan cara yang lama. Hidupnya lebih baik…

Tema itu sejalan dengan semangat Natal, yang selalu diwarnai dengan pesan damai dan sejahtera bagi sesama manusia.  Berbagi dan bersama menjadi pesan wajib bagi umat Kristiani di negeri ini juga di seluruh dunia.

Semangat berbagi dan bersama itu kian mendapatkan tempat lapang untuk mewujud, saat dunia masih dilanda pandemi Covid-19. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menandaskan, tak ada orang yang bisa bebas dari virus korona baru, yang terus bermutasi, sampai bisa dipastikan seluruh warga dunia ini bebas dari pandemi. Dan, tak bisa lain, jalan agar semua orang di dunia ini bisa bebas dari pandemi adalah semua orang harus berbagi dan bersama tolong-menolong. Berbagi vaksin, alat kesehatan, atau berbagai daya untuk melawan Covid-19.

Secara khusus di Indonesia, negeri yang ber-bhineka tunggal ika, perbedaan yang merupakan anugerah Allah tidak harus membuat kita terbelah dan membuat enggan membantu sesama anak negeri yang mengalami kesulitan menghadapi Covid-19 dan dampak ikutannya. Perbedaan ”jalan” seharusnya mendorong kita untuk saling membantu dan melengkapi sehingga persoalan bangsa ini segera teratasi. Dengan bersama dan berbagi, kita yakin bangsa ini, dan warga dunia, mampu ”pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat” seperti diidamkan.

Semangat berbagi dan bersama itu menghadapi tantangan, ketika bangsa ini memasuki tahun politik, rangkaian Pemilu 2024, yang memaksa warga berbeda pilihan. Tema Natal 2022, yang menyebut adanya jalan berbeda, seharusnya menegaskan kepada kita: perbedaan pilihan politik itu hanya jalan berbeda, tetapi satu tujuan, mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, siapa pun pemimpinnya.

Jika kita tarik lebih dekat, tema yang diangkat tahun ini sangat relevan dengan persoalan di Tanah Papua. Dinamika dan proses yang kini sedang terjadi, menjadikan momentum Natal tahun ini mengharuskan kita semua untuk merefleksi diri.

Kolaborasi dan kebersamaan membangun negeri, tentu menjadi sesuatu keniscayaan. Papua terlalu besar untuk kita urus sendiri. Bukankah berwarna itu indah?  

Si vis pacem para panem. Begitu pesan Paus Fransiskus pada suatu saat. Jika ingin perdamaian, siapkanlah roti. Kesejahteraan bersama butuh berbagi. Selamat Hari Raya Natal… (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!