
Bintuni, TopbNews.com – Orang tua diminta lebih memahami karakter, bakat, dan potensi anak sejak dini sebagai bekal mempersiapkan masa depan di tengah persaingan dunia kerja dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Pesan tersebut disampaikan Ina Liem dalam Seminar Parenting yang diselenggarakan Yayasan Pemerhati Perempuan dan Anak (PAPEDA), Selasa (3/11), dengan tema “Kenali Hatinya, Pahami Karakternya, Bimbing Masa Depannya”.
Dalam pemaparannya, Ina Liem menekankan bahwa setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan keunggulan yang berbeda. Karena itu, orang tua tidak boleh hanya mengukur kecerdasan anak berdasarkan nilai akademik maupun membandingkannya dengan anak lain.
Menurutnya, tugas orang tua adalah mengamati dan mengenali profil bawaan anak agar dapat memberikan pendampingan pendidikan serta pilihan karier yang sesuai dengan potensinya.
Ia juga mengingatkan bahwa memilih jurusan pendidikan tidak cukup hanya berdasarkan minat sesaat. Anak perlu diperkenalkan dengan berbagai bidang pekerjaan dan pengalaman agar memiliki gambaran lebih luas mengenai kemampuan yang ingin dikembangkan.
Selain itu, orang tua perlu mengubah pola pikir dalam mempersiapkan masa depan anak. Pertanyaan bukan lagi sekadar ingin menjadi apa, melainkan keterampilan apa yang akan diperoleh dari pendidikan tersebut dan bagaimana keterampilan itu dapat menghasilkan pendapatan secara mandiri.
Ina Liem turut menyoroti semakin ketatnya persaingan dunia kerja akibat perkembangan teknologi dan AI. Kondisi tersebut menuntut anak-anak memiliki keterampilan praktis, kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta keberanian menciptakan peluang usaha.
Ia mencontohkan peluang di bidang budidaya perikanan dan pengembangan usaha berbasis potensi lokal yang dapat dikembangkan hingga menjangkau pasar lebih luas melalui teknologi digital.
Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan pentingnya tiga aspek dalam mempersiapkan masa depan anak, yakni memiliki penghasilan berkelanjutan, pekerjaan yang memberikan makna pribadi, serta kemampuan memberikan dampak sosial bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Ina mengingatkan orang tua agar mengurangi asumsi dan nasihat panjang kepada anak, serta memperbanyak pertanyaan yang mendorong anak berpikir kritis, menjelaskan alasan, dan mengambil keputusan secara mandiri.
Menurutnya, kemampuan berpikir harus berjalan seiring dengan integritas, terutama di tengah penggunaan AI yang semakin luas.
Teknologi dapat membantu meningkatkan produktivitas, tetapi karakter dan integritas tetap menentukan bagaimana teknologi tersebut digunakan.
“AI memang mempercepat hasil, tetapi integritas yang menentukan arah”, menjadi salah satu pesan penting dalam pemaparannya. (*)
Penulis: Marthina Marisan