
Manokwari, TopbNews.com – Sejak sepekan terakhir, pagi di Manokwari tidak lagi dimulai dengan langit biru. Kabut tipis menggantung di atas atap rumah, bau asap masuk lewat celah jendela, dan suara batuk anak-anak terdengar lebih sering di Puskesmas.
Ini bukan kabut biasa. Ini asap kebakaran hutan dan lahan serta sisa limbah sampah yang terjadi di Manokwari dan sejumlah wilayah di Provinsi Papua Barat yang terbawa angin ke Kota Manokwari.
Pantauan Topbnews.com di sejumlah Puskesmas (Puskesmas Wosi, Puskesmas Amban, dan Puskesmas Sanggeng) antrean ibu-ibu menggendong anak terus bertambah. Pihak puskesmas mencatat lonjakan pasien ISPA, mata perih, dan sesak napas sejak asap tebal mendominasi.
“Anak saya usia 4 tahun batuk tidak berhenti sejak Senin. Dokter bilang karena asap,” kata Yuliana, warga Amban, sambil mengipas anaknya dengan kipas tangan.
Kelompok paling terdampak adalah anak-anak, lansia, dan penderita asma. BMKG menyebut cuaca kering membuat asap bertahan lebih lama di udara Manokwari.
Bahkan, beberapa sekolah mulai membatasi kegiatan outdoor. Guru menyarankan siswa pakai masker.
Di kantor-kantor, AC dinyalakan bukan karena panas, tapi untuk menyaring udara.
“Rasanya seperti kita hidup di dalam ruangan terus. Mau jemur baju saja takut baunya asap,” ujar Markus, ojek online di Sowi.
Pemkab Manokwari bersama BPBD, TNI, Polri mulai gencar patroli dan sosialisasi larangan bakar lahan. Masker gratis dibagikan di titik keramaian. Posko kesehatan darurat disiapkan di lokasi rawan.
“Kita tidak bisa menunggu. Harus padamkan api di hulu dan jaga udara di hilir,” ungkap salah satu anggota tim Karhutla.
Tapi tantangannya besar. Titik panas masih muncul. Pengawasan di sejumlah lokasi rawan Karhutla dan warga yang buka lahan dengan cara bakar harus diperketat.
Warga kini hanya bisa berharap dua hal yaitu hujan turun, dan tidak ada lagi yang membakar hutan maupun sampah.
“Udara bersih itu hak. Jangan tunggu sakit baru peduli. Mulai dari tidak bakar sampah, tidak bakar lahan,” imbau petugas sembari mengajak menggunakan masker.
Hingga Kamis (27/8/2026), langit Manokwari masih diselimuti kabut. Di balik itu, ada napas-napas yang sedang berjuang, ada anak-anak yang rindu bermain di luar, dan ada harapan sederhana : kembali menghirup udara bersih.
Semoga wajah Gunung Arfak yang kehijauan nan indah dipandang dari kejauhan tidak lagi memutih diselimuti warna putih. (*/redaksi)