
Bintuni, TopbNews.com – Selama puluhan tahun pedagang kecil Babo berjualan di kapal penumpang dengan cara bertaruh nyawa. Kini pembangunan Pelabuhan Babo membawa harapan baru agar mereka tak lagi naik longboat ke tengah laut.
Ibu Sulastri, pedagang nasi dan kue sejak 1999, menceritakan perjuangannya. Ia mengaku pernah hampir jatuh saat pindah dari perahu ke kapal.
“Kita kira tidak susah. Mau ke pelabuhan harus naik perahu, taruhannya nyawa. Kalau jatuh bagaimana? Terima kasih banyak kepada Bapak Bupati,” ujarnya, Selasa (5/8/2026).
Selain risiko keselamatan, biaya juga membengkak. Dagangan harus dikemas terpisah mulai lauk, sambal hingga sayur.
“Banyak makan modal, hampir-hampir untung tidak ada,” kata Sulastri. Meski begitu ia tetap bertahan. Saat dagangan habis, omzetnya bisa Rp900 ribu dengan harga nasi Rp30 ribu per porsi.
Senada disampaikan Sarafia Bauw, pedagang snack sejak 2009. Setiap jualan, ia harus bayar ongkos longboat Rp10 ribu sekali jalan.
“Dari sini ke sana Rp10 ribu, balik Rp10 ribu. Kalau bawa anak, sekali jalan Rp60 ribu, bolak-balik Rp120 ribu. Itu dipotong dari untung,” ujarnya.
Waktu, tenaga, dan biaya itu dirasa sangat memberatkan pedagang kecil.
Para pedagang menyambut baik pembangunan Pelabuhan Babo. Mereka berharap akses ke kapal lebih aman dan mudah.
“Dengan adanya pembangunan ini, ke depan kita tidak seperti dulu lagi. Cara itu paling susah sekali,” kata Sarafia.
Mereka juga meminta pemerintah memberi kesempatan adil dalam pembagian los/lapak dagang di kawasan pelabuhan.
“Kami berharap kalau dibangun los, mudah-mudahan kita diberi kesempatan untuk jualan,” harap Sarafia yang diamini Sulastri.
Sedikitnya 7 pedagang telah diusulkan mendapat lapak. Mereka yakin fasilitas baru ini akan menekan biaya, tingkatkan keamanan, dan buka peluang usaha lebih baik.
Bagi pedagang Babo, pelabuhan bukan sekadar bangunan. Ini simbol harapan agar tidak lagi mempertaruhkan nyawa di laut demi mencari nafkah. (*)
Penulis: Marthina Marisan