
Bintuni, TopbNews.com – Nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di Aula Paroki Santo Yohanes Bintuni, Jumat (22/5/2026), menjadi ruang peringatan bagi masyarakat Teluk Bintuni atas ancaman terhadap tanah adat dan hutan.
Forum yang dihadiri tokoh agama, aktivis lingkungan, pemuda, dan masyarakat adat menyoroti kemiripan kondisi di Merauke, Papua Selatan, dengan situasi yang mulai terjadi di Bintuni.
“Masyarakat jangan anggap persoalan dalam film ini jauh dari kita. Di Bintuni juga sudah ada, tapi belum terekspos,” kata peserta diskusi, Edison Orochomna.
Ia menyebut masuknya perusahaan besar, pembukaan lahan sawit, dan eksploitasi hutan mulai mengubah kehidupan masyarakat adat. Menurutnya, persoalan terbesar justru datang dari keputusan sebagian orang tua adat yang menjual tanah karena kebutuhan ekonomi sesaat.
“Hari ini mereka butuh uang, tapi besok anak-anak Papua tinggal di gunung sementara kota dikuasai pengusaha besar,” tegas Edison.
Ia memperingatkan, jika dibiarkan, Teluk Bintuni bisa bernasib sama dengan wilayah lain yang kehilangan hutan dan tanah adat.
“Kalau kita diam, Bintuni bisa jadi sasaran berikutnya,” ujarnya.
Edison meminta gereja dan pemerintah turun langsung memberikan edukasi hingga ke kampung-kampung. Dana Otonomi Khusus, katanya, perlu digunakan untuk sosialisasi agar masyarakat tidak mudah melepas tanah adat.
“Dana Otsus harus dipakai untuk mencegah ini. Sosialisasi kepada orang tua di kampung supaya mereka sadar menjaga tanah untuk anak cucu,” katanya.
Ia juga mengenang kehidupan masyarakat Moskona yang dulu bergantung pada hutan, kini mulai hilang akibat pembukaan lahan. Karena itu, ia mendorong kegiatan seperti nobar diperluas ke seluruh wilayah Teluk Bintuni.
“Generasi sekarang harus bergerak supaya anak-anak ke depan tidak mengalami seperti yang terjadi di Merauke,” katanya.
Diskusi berlangsung antusias hingga sesi tanya jawab. Forum ini menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap tanah adat dan hutan Papua semakin dekat, dan Teluk Bintuni perlu bersiap menjaga wilayahnya sebelum terlambat.
Penulis : Marthina Marisan