Di Balik Gemuruh Stadion: Wirda, Secercah Harapan di Tengah Ribuan SuporterJayapura

Jayapura, TopbNews.com – Jarum jam baru menunjuk pukul delapan pagi, tapi tangan Wirda sudah sibuk. Botol air mineral ia susun rapi di dalam kardus, kacang dan keripik ia kemas dalam plastik-plastik kecil. Napasnya sedikit memburu. Hari ini Persipura main.

mostbet

Perempuan 40-an tahun itu menutup pintu rumah petaknya di Dok IX, Kelurahan Tanjung Ria, Distrik Jayapura Utara. Di depannya terbentang perjalanan 45 kilometer menuju Stadion Lukas Enembe, Sentani. Jauh, tapi bagi Wirda, jarak itu sepadan dengan harapan.

“Kalau Persipura main, rezeki pasti ada,” katanya sambil mengikat kardus dagangan di atas motor.

Sudah 12 tahun Wirda menyusuri keramaian Kota Jayapura. Dari pasar malam, konser, sampai pertandingan bola. Asalnya dari Buton, Sulawesi Tenggara. Ia merantau, lalu menetap dan membesarkan tiga anak bersama suami di Jayapura. Dua anaknya baru saja lulus SMA. Yang bungsu masih duduk di bangku sekolah.

Modalnya hari ini Rp1 juta. Uang itu ia belikan minuman dingin, kopi kemasan, dan camilan. Jika stadion penuh, Wirda bisa pulang membawa untung dua kali lipat. “Alhamdulillah. Cukup untuk belanja seminggu dan bayar SPP anak,” ucapnya, matanya berbinar.

Siang menjelang, lautan manusia mulai tumpah di pelataran Stadion Lukas Enembe. Atribut merah-hitam Persipura mendominasi. Yel-yel menggema. Di antara riuh itu, lapak sederhana Wirda ikut bernapas. Tangannya tak berhenti melayani pembeli yang kehausan. Keringat menetes, tapi senyumnya tak luntur.

Bagi Wirda, stadion bukan sekadar arena sepak bola. Ia adalah ruang hidup. Tempat di mana gol yang dicetak Persipura bisa berarti tambahan nasi di rumah, buku tulis untuk si bungsu, dan setitik lega di dada seorang ibu.

Sore ini Persipura menghadapi Adhyaksa FC di Pegadaian Championship 2025/2026. Wirda tak terlalu paham sistem kompetisi atau klasemen. Ia hanya tahu satu hal: kalau Mutiara Hitam menang, stadion akan berpesta. Dan kalau stadion berpesta, dagangannya ludes.

“Mudah-mudahan Persipura menang. Biar semua senang. Kami yang jualan juga ikut senang,” bisiknya, sebelum kembali menyodorkan sebotol air ke tangan suporter yang berteriak, “Persipura!”

Di tengah gemuruh 20 ribu suara, ada satu harapan yang lirih tapi teguh. Harapan Wirda. Agar dapur tetap mengepul, agar anak-anaknya tetap sekolah, agar hidup terus bisa diperjuangkan, satu pertandingan pada satu waktu. (*)

Penulis: JM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!