Sang Penjaga Nalar dari Tanah Tehit

Oleh: Franky Umpain (Direktur Eksekutif Papuan Centre)

Sang Penjaga Nalar dari Tanah Tehit

DI AULA utama kantor Gubernur Papua Barat Daya, suasana hening menyergap. Wangi bunga duka bercampur dengan sisa aroma air laut Sorong yang terbawa angin. Di sana, di dalam peti yang tenang, terbujur tubuh Dr. Don Augusthinus Lamaech Flassy, MA. Upacara penghormatan yang digelar Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya hari ini bukan sekadar seremoni birokrasi; ini adalah pengakuan atas berpulangnya sebuah “perpustakaan berjalan” yang juga merupakan salah satu rahim pemikiran dari berdirinya provinsi ini.

Bagi kami di Papuan Centre, kepergiannya adalah duka silsilah. Jejak Don Flassy tertanam dalam fondasi lembaga ini. Jauh sebelum hiruk-pikuk politik hari ini, saat ia menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Irian Jaya di Jayapura, Don Flassy bersama tokoh-tokoh lainnya menginisiasi terbentuknya Papuan Centre. Ia membayangkan sebuah “Lembaga Gagasan”—sebuah sanggar sunyi tempat merawat mimpi-mimpi tentang masa depan masyarakat adat Papua yang sering kali terpinggirkan.

Don Flassy bukan sekadar deretan gelar akademik. Sebagai seorang antropolog lulusan Universitas Leiden, ia adalah jangkar intelektual. Namun, sejarah akan mencatatnya dengan tinta emas sebagai salah satu tokoh penting dalam perjuangan pemekaran Provinsi Papua Barat Daya. Baginya, kehadiran provinsi ini bukan sekadar soal pembagian kekuasaan, melainkan sebuah ikhtiar panjang untuk mendekatkan pelayanan publik dan mengembalikan kedaulatan masyarakat adat di atas tanah ulayatnya sendiri.

Penghormatan terhadap jasa besar almarhum telah mengalir sejak dari Jayapura. Gubernur Elisa Kambu secara khusus telah hadir langsung melakukan takziah ke rumah duka di Jayapura, sebuah gestur penghormatan personal bagi seorang tokoh besar Papua. Sementara hari ini, Rabu (25/3/2026) dalam prosesi pelepasan jenazah menuju tanah kelahirannya di Sorong Selatan, Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, memimpin jajaran pemerintah untuk memberikan salam terakhir. Kehadiran para pimpinan daerah ini menyiratkan sebuah kehilangan besar: hilangnya arsitek pemikiran yang percaya bahwa pembangunan tidak boleh tercerabut dari akar adat.

Visi masa depan Papua versi Don Flassy adalah sebuah cetak biru “Kedaulatan Kultural”. Ia memimpikan pembangunan yang vernacular—di mana kebijakan publik tidak menjadi “barang impor” yang asing. Ia ingin melihat Papua yang berdaulat secara intelektual, di mana orang Papua menjadi subjek yang menarasikan sejarahnya sendiri. Baginya, modernitas di Tanah Papua harus berjalan beriringan dengan pengakuan mutlak atas hak ulayat.

Namun, di balik protokol yang rapi, ada duka yang lebih subtil. Kita kehilangan seorang intelektual organik yang konsisten. Di era di mana nalar sering kali digadaikan demi kepentingan politik praktis, Don Flassy memilih jalan sunyi untuk memahami “manusia Papua” seutuhnya—mimpi mereka, kecemasan mereka, dan hak mereka untuk berdiri tegak tanpa harus merasa “dikerdilkan”.

Kini, Dr. Don Augusthinus Lamaech Flassy, MA telah menuntaskan tugasnya. Saat iring-iringan jenazah bergerak meninggalkan Sorong menuju Sorong Selatan, ia meninggalkan lubang besar dalam diskursus intelektual di provinsi yang ia perjuangkan ini. Tantangan bagi kepemimpinan Elisa Kambu dan generasi muda Papua saat ini adalah memastikan bahwa provinsi ini tidak akan pernah menghapus martabat manusia yang mendiaminya.

Selamat jalan, Bapa Don. Di tanah Tehit hingga ke pelosok Papua yang engkau cintai, jejakmu takkan tersapu ombak. Kami di Papuan Centre akan memastikan nalar kritis yang engkau semai di sanggar sunyi itu tetap menyala di kepala setiap anak-cucu Cendrawasih. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!