Founder Asar Papua Minta Pemkab Pegunungan Arfak Lindungi 4 Burung Langka di Kampung Mbenti

Pegaf, TopbNews.com – Potensi wisata alam berbasis keanekaragaman hayati di Kampung Mbenti, Kabupaten Pegunungan Arfak, kembali mendapat sorotan. Kehadiran turis asal Hongkong menjadi bukti bahwa kawasan ini memiliki daya tarik internasional, khususnya bagi pecinta burung endemik Papua.

Founder Asar Papua, Klif Indou, menegaskan bahwa pemerintah daerah perlu memberikan perhatian khusus terhadap perlindungan empat spesies burung langka yang menjadi ikon wisata sekaligus memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar global.

“Kehadiran turis dari Hongkong ini bukan kebetulan. Mereka datang karena kekayaan alam kita, terutama burung-burung endemik yang tidak ditemukan di tempat lain. Ini harus dijaga serius oleh pemerintah”, tegas Krif, kepada media ini, selasa (24/03/2026).

Adapun empat spesies burung yang dimaksud, yakni burung pintar atau bowerbird, cenderawasih hitam (Black Sicklebill), kinang (Parotia), dan barlolotan atau Magnificent Bird of Paradise khas Arfak.

Di Kampung Mbenti, akses menuju lokasi pengamatan burung relatif terjangkau. Untuk melihat burung pintar dan barlolotan, wisatawan hanya membutuhkan waktu sekitar 7 menit dari titik pengamatan.

Sementara itu, burung kinang dapat dijangkau dalam waktu sekitar 21 menit, dan cenderawasih hitam membutuhkan perjalanan lebih jauh, yakni sekitar 2 jam.

Menurut Klif, potensi ini jika dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pendapatan berkelanjutan bagi masyarakat lokal, sekaligus mendukung konservasi lingkungan.

“Nilai ekonomi burung-burung ini sangat tinggi di mata wisatawan mancanegara. Tapi kalau tidak dilindungi, kita bisa kehilangan semuanya. Ini bukan hanya soal wisata, tapi juga warisan alam”, ujarnya.

Klif juga mendorong Pemerintah Kabupaten Pegunungan Arfak untuk segera menyusun regulasi dan langkah konkret, termasuk pengawasan terhadap aktivitas perburuan liar serta penguatan peran masyarakat adat dalam menjaga habitat burung.

Secara tegas Klif mengimbau masyarakat agar menghentikan kebiasaan menembaki burung yang masih kerap terjadi di wilayah tersebut.

Ia menilai, tindakan tersebut tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengancam sumber ekonomi jangka panjang masyarakat sendiri.

“Kami minta kesadaran masyarakat untuk tidak lagi menembak burung-burung ini. Kalau terus dilakukan, wisatawan akan berhenti datang dan kita semua yang rugi”, tegasnya.

Ia berharap pemerintah daerah tidak tinggal diam dan segera mengambil langkah tegas terhadap pelaku perburuan liar, demi menjaga kelestarian satwa endemik Papua.

“Harus ada tindakan nyata dan tegas dari pemerintah daerah. Jangan sampai kita terlambat menyelamatkan kekayaan alam yang sangat berharga ini”, pungkasnya. (*)

Penulis: Marthina Marisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!