Memburu Hilal di Tengah Cuaca Tak Menentu, LDII Manokwari Ikut Putusan Sidang Isbat Pemerintah

Manokwari, TopbNews.com– Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) DPW Manokwari kembali melaksanakan pengamatan hilal menjelang pergantian bulan Hijriah.

Kegiatan yang dilakukan secara rutin hampir setiap bulan ini menjadi bentuk kontribusi nyata organisasi keagamaan dalam mendukung penetapan awal bulan Islam, termasuk awal Ramadhan.

Ketua DPW LDII Manokwari, Drs. Suroto, menegaskan bahwa rukyatul hilal merupakan amanah organisasi yang terus dijalankan secara konsisten.

Menurutnya, setiap menjelang tanggal 1 Hijriah, pihaknya selalu menerima instruksi untuk melakukan pemantauan langsung terhadap posisi bulan.

“Ini sudah menjadi tanggung jawab kami sebagai organisasi keagamaan Islam untuk ikut berkontribusi. Saudara Muhammadiyah menggunakan metode hisab atau perhitungan, sedangkan kami menggunakan metode rukyatul hilal, yaitu dengan melihat langsung keberadaan bulan,” ujarnya.

Dari pantauan TopbNews.com di lapangan terlihat tim LDII membawa peralatan teleskop dan kamera pemantau ke lokasi pengamatan di Pantai Saukori.

Anggota tim tampak mempersiapkan alat sejak menjelang matahari terbenam, mengarahkan teleskop ke ufuk barat sambil terus memantau perubahan cahaya langit.

Suasana penuh keseriusan terlihat ketika tim bergantian mengintip lensa, berharap hilal dapat tertangkap meski kondisi langit berubah-ubah.

Pantai Saukori dipilih karena dinilai memiliki sudut pandang terbuka ke arah barat. Namun, lokasi pemantauan setiap tahun tidak selalu sama.

Tahun sebelumnya, rukyatul hilal dilakukan di Pantai Undi wilayah SP Tujuh, dan tim juga sempat menjajaki titik lain seperti Warbefor yang dinilai potensial.

Kendala utama yang dihadapi tim di wilayah Manokwari adalah faktor cuaca yang sulit diprediksi.

Suroto mengakui, kondisi cerah di dalam kota kerap berubah menjadi mendung atau hujan saat tiba di lokasi pengamatan.

“Selama ini kami belum pernah berhasil melihat hilal secara langsung melalui alat, kemungkinan besar karena faktor cuaca,” ungkapnya.

Meski demikian, semangat tim tidak surut. Ke depan, LDII Manokwari berencana memperbarui peralatan dengan teknologi yang lebih canggih agar hasil pengamatan bisa lebih optimal dan akurat.

Suroto menegaskan bahwa tim di daerah hanya bertugas melakukan pengamatan dan menyampaikan laporan.

Hasil rukyatul hilal kemudian diteruskan ke DPP LDII serta instansi berwenang seperti Kementerian Agama dan Pengadilan Tinggi Agama untuk diproses lebih lanjut di tingkat pusat.

Ia berharap ke depan dapat ditemukan lokasi yang lebih strategis untuk pemantauan, mengingat kondisi geografis Manokwari yang membuat posisi matahari terbenam cenderung ke barat sehingga menyulitkan penentuan titik ideal pengamatan.

“Harapan kami, suatu saat hilal bisa benar-benar terlihat langsung dari Manokwari. Itu akan menjadi kebanggaan sekaligus bukti kontribusi daerah dalam penetapan awal bulan Hijriah,” tutupnya.

Sementara itu, berdasarkan hasil sidang isbat yang diinisiasi Kementerian Agama Republik Indonesia dan dihadiri seluruh elemen organisasi islam di seluruh Indonesia, maka pemerintah republik Indonesia menetapkan 1 ramadhan 1447 Hijriyah jatuh tanggal 19 Februari 2026 atau Hari Kamis. Menteri Agama republik Indonesia menjelaskan, keputusan hasil Isbat telah menetapkan hilal dari pemantauan tim belum terlihat, sehingga pelaksanaan shalat taraweh dimulai Rabu malam dan puasa ramadhan dimulai Kamis. (TIM)

Penulis : Marthina Marisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!