
Manokwari, TopbNews.com – Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat, bersiap menegaskan posisinya sebagai salah satu destinasi wisata alam dan pusat biodiversitas kelas dunia melalui penyelenggaraan dua agenda internasional bergengsi, yakni The 12th International Flora Malesiana Symposium (FMS) dan International Nature-based Climate Solutions Conference (NBCS) yang akan berlangsung pada 9–14 Februari 2026.
Kedua event internasional ini diperkirakan akan menghadirkan sekitar 250 hingga 300 peserta yang terdiri dari peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, praktisi lingkungan, lembaga donor, serta organisasi internasional dari berbagai negara.
Kehadiran ratusan delegasi mancanegara ini diyakini menjadi momentum strategis untuk mempromosikan potensi wisata alam Papua Barat ke panggung global.
Ketua Bersama Panitia, Charlie D. Heatubun menjelaskan bahwa pelaksanaan technical meeting yang digelar menjadi tahapan penting dalam memfinalisasi seluruh rangkaian kegiatan, baik konferensi utama maupun agenda pendukung yang akan berlangsung selama satu pekan penuh.
“Ini bukan sekadar konferensi ilmiah, tetapi juga bagian dari upaya strategis untuk menunjukkan bahwa Papua, khususnya Manokwari, memiliki kekayaan alam, budaya, dan keanekaragaman hayati yang menjadi daya tarik wisata internasional”, ungkap Charlie Heatubun.
Charlie menjelaskan, Flora Malesiana Symposium merupakan forum ilmiah internasional yang telah dilaksanakan sebanyak 11 kali di berbagai negara. Simposium ke-12 ini menandai pertama kalinya kegiatan tersebut digelar di Papua Barat.
Flora Malesiana membahas secara teknis dan mendalam mengenai status terkini, distribusi, dan penelitian keanekaragaman tumbuhan di kawasan Malesia, yang mencakup Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Timor Leste, hingga Kepulauan Solomon.
“Kawasan Malesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman tumbuhan terbesar di dunia. Papua memiliki posisi yang sangat strategis, baik dari sisi ilmiah maupun potensi ekowisata berbasis keanekaragaman hayati”, jelasnya.
Hasil penelitian yang dipresentasikan dalam simposium ini tidak hanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi dasar dalam perumusan kebijakan pembangunan berkelanjutan, termasuk upaya pelestarian alam dan penguatan sektor wisata berbasis konservasi.

Sementara itu, International Nature-based Climate Solutions Conference (NBCS) akan fokus pada solusi perubahan iklim berbasis alam, seperti perlindungan hutan, restorasi ekosistem, dan pengelolaan wilayah pesisir.
Beberapa isu utama yang akan dibahas meliputi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, pencegahan hilangnya keanekaragaman hayati, ketahanan pangan, ketahanan energi, serta pengembangan blue carbon atau karbon biru melalui ekosistem mangrove dan pesisir.
“Papua memiliki potensi karbon biru yang sangat besar. Mangrove, laut, dan hutan pesisir bukan hanya penting untuk iklim global, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan wisata yang sangat tinggi”, kata Kepala BRIDA Provinsi Papua Barat ini.
Selain konferensi utama, panitia juga akan menggelar rangkaian kegiatan bertajuk Papua Biocultural and Climate Week, yang menjadi ruang promosi terpadu antara wisata alam, budaya lokal, dan edukasi lingkungan.
Kegiatan pendukung tersebut meliputi pemutaran film bertema konservasi dan lingkungan, pameran foto dan poster keanekaragaman hayati Papua, serta workshop jurnalisme lingkungan bekerja sama dengan National Geographic Indonesia, Mongabay Indonesia, dan Rekam Nusantara.
Tak hanya menyasar kalangan akademisi, panitia juga menyiapkan program outreach untuk generasi muda, seperti lomba mewarnai dan menggambar bertema lingkungan, sebagai upaya menanamkan kesadaran konservasi sejak dini.
Dampak Ekonomi dan Wisata Internasional
Menurut Charlie, penyelenggaraan dua event internasional ini diharapkan memberikan multiplier effect bagi perekonomian daerah, mulai dari sektor perhotelan, transportasi, kuliner, hingga UMKM lokal.
“Ratusan tamu dari luar negeri akan tinggal cukup lama di Manokwari. Ini kesempatan besar untuk memperkenalkan wisata alam Papua Barat, seperti pantai, hutan hujan tropis, keanekaragaman hayati, dan kearifan budaya lokal”, ujarnya.
Selain itu, kegiatan ini juga membuka peluang kerja sama internasional dalam pendanaan iklim berkelanjutan, pengembangan komoditas unggulan daerah, serta percepatan pembangunan Papua yang berorientasi pada keberlanjutan.
Charlie menegaskan bahwa keberhasilan penyelenggaraan event ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, komunitas lokal, pelaku wisata, dan mitra pembangunan.
“Potensi alam Papua adalah nilai tawar strategis di tingkat nasional dan internasional. Melalui event ini, kita ingin menunjukkan bahwa Papua tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga siap menjadi destinasi wisata ilmiah dan ekowisata kelas dunia”, pungkasnya. (*)
Penulis : Marthina Marisan